Misteri kematian kepala SPPG di Bandung tuai sorotan, diduga akibat tekanan kerja hingga gejolak batin

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Selasa, 14 Juli 2026 | 13:03 WIB
Menyoroti fakta di balik kasus kematian Kepala SPPG Pameungpeuk di area parkiran Mall Bandung (Instagram.com/@terasnegeriku)
Menyoroti fakta di balik kasus kematian Kepala SPPG Pameungpeuk di area parkiran Mall Bandung (Instagram.com/@terasnegeriku)

GENMILENIAL.ID – Kasus kematian seorang Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pameungpeuk, Bandung, menjadi sorotan publik setelah ditemukan adanya sepucuk surat yang diduga ditulis korban sebelum meninggal dunia.

Korban diketahui merupakan pria berusia 26 tahun yang ditemukan meninggal dunia di area parkiran Kings Shopping Centre, Bandung, pada Minggu 12 Juli 2026 pagi.

Kapolsek Regol Bandung, Kompol Megawati Triyani, membenarkan pihaknya menerima laporan terkait kejadian tersebut sekitar pukul 06.30 WIB dari petugas keamanan setempat.

Baca Juga: Skandal dugaan pembakaran santri di Lombok kian disorot, usai dibongkar Denny Sumargo kini Hotman Paris ikut bersuara

“Pada hari Minggu pukul 06.30 WIB kami menerima laporan dari teknisi dan satpam bahwa ada kejadian tersebut,” ujar Megawati dalam keterangannya, Senin 13 Juli 2026.

Setelah menerima laporan, pihak kepolisian bersama tim Inafis Polrestabes Bandung langsung menuju lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

“Sehingga dari piket dan gabungan Inafis turun ke lapangan dan melakukan olah TKP,” lanjutnya.

Ditemukan dalam kondisi tergantung

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban ditemukan dalam kondisi tergantung menggunakan seutas tali di lantai 12 gedung parkiran mal tersebut.

Baca Juga: UMY lakukan investigasi usai viral dugaan oknum dosen farmasi lecehkan mahasiswi, telusuri kemungkinan ada kasus lain

“Korban (tergantung) dengan tali di lantai 12,” ungkap Megawati.

Dalam proses olah TKP, polisi turut mengamankan sejumlah barang milik korban sebagai barang bukti. Di antaranya telepon genggam, sandal, kartu tanda penduduk (KTP), serta sebuah surat tulisan tangan.

Keberadaan surat tersebut menjadi perhatian karena berisi pesan yang diduga ditujukan kepada keluarga korban.

“Jadi ada barang yang diamankan, handphone, sandal, KTP dan satu surat tulis tangan permohonan maaf kepada pihak keluarga,” jelasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X