“Diperlukan riset mendalam oleh Baperida untuk memahami pola akulturasi yang terjadi. Tujuannya agar pemerintah dapat memberikan penyikapan yang tepat sehingga masyarakat tetap memiliki jati diri dan tidak kehilangan kecintaan terhadap budaya lokal di tengah arus globalisasi,” ujarnya.
Perubahan budaya, bagi Iwan, merupakan bagian yang tidak terhindarkan dari perkembangan sebuah daerah. Namun, perubahan itu tetap perlu menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan agar identitas lokal tidak terabaikan.
Baca Juga: Bantu Anggara untuk sembuh dari leukemia AML, perjuangan sehat yang butuh biaya ratusan juta
“Perubahan budaya adalah keniscayaan. Contoh nyata terlihat pada perbedaan kondisi daerah di masa lalu dengan masa kini setelah masuknya pabrik. Oleh karena itu, pendekatan budaya harus menjadi perhatian serius dalam setiap perencanaan pembangunan agar identitas daerah tetap terjaga,” katanya.
Di balik kesehariannya yang dipenuhi data, riset, dan perencanaan pembangunan, sastra menjadi ruang yang membuat Iwan tetap dekat dengan kata, perasaan, dan cara manusia memaknai kehidupan.
Dari perpustakaan masjid sekolah hingga tulisan-tulisan yang masih tersimpan di rumah, perjalanan itu menunjukkan bahwa dunia sastra telah menjadi bagian dari dirinya jauh sebelum ia berkutat dengan riset pembangunan daerah.***
Artikel Terkait
Sinopsis buku Soe Hok Gie 'Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan'
Zaman Peralihan, merenung karya Soe Hok Gie dalam gelombang perubahan
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Sinopsis buku antologi puisi 'Gemuruh Palung Hati' karya Ai Lundeng
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa