Di balik data dan riset Bapperida, Iwan Syahrul Anwar menemukan ruang lain dalam sastra

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Jumat, 25 September 2026 | 11:28 WIB
Kepala Bapperida Kabupaten Subang Iwan Syahrul Anwar berbicara tentang kecintaannya pada sastra dan puisi di ruang kerjanya, Kamis, 24 September 2026
Kepala Bapperida Kabupaten Subang Iwan Syahrul Anwar berbicara tentang kecintaannya pada sastra dan puisi di ruang kerjanya, Kamis, 24 September 2026

Kedekatan Iwan dengan sastra tidak berhenti pada aktivitas membaca. Ia juga pernah menulis puisi dan menyimpan sejumlah tulisan yang dibuat sejak masa SMA hingga kuliah. Karya-karya tersebut belum secara formal diterbitkan dan masih tersimpan di rumah.

Puisi menjadi ruang katarsis

Ruang itu semakin terasa melalui puisi. Bagi Iwan, puisi dapat menjadi bentuk katarsis, terutama ketika seseorang berada dalam kondisi emosional yang sangat intens.

Perasaan yang sulit disampaikan secara langsung dapat dituangkan melalui kata-kata hingga menemukan bentuknya.

Baca Juga: 11 Poin tuntutan buruh di aksi demo Thamrin hari ini, salah satunya soal jaminan pesangon dan anti-PHK

“Puisi lahir dari sebuah peristiwa yang memicu keresahan mendalam. Keresahan tersebut sering kali sulit diekspresikan kepada orang lain, namun harus disalurkan agar tereksplorasi. Melalui karya puisi, kegelisahan tersebut menemukan bentuknya,” ujar Iwan.

Pandangan tersebut tergambar dalam salah satu puisinya yang merefleksikan perjalanan waktu, kesempatan untuk memperbaiki diri, hingga ungkapan kasih kepada pasangan.

Hari, kemarin yang berlalu, kemana?
Akankan ada makna pada apa yang telah kau karyakan?
Ataukah hanya sebatas lalu tanpa apapun kebermanfaatanya?
Hari, kini adalah kesempatan untuk lebih baik
Maka, berusahalah

Baca Juga: Terungkap dugaan pungli di Lapas Cibinong usai viral kamar mewah sewaan napi berkantong tebal

Puisi tersebut kemudian bergerak dari refleksi tentang hari yang telah berlalu dan kesempatan pada hari ini menuju sesuatu yang lebih personal.

Hari, esok adalah rahasia
Manusia berencana Tuhan berkehendak
Maka akan dimana mata ku pejamkan jika bukan pada wajah cantikmu yang terakhir ku tatap sebelum terlelap
Maka, akan dimana tubuhku ku baringkan jika bukan di pangkuanmu
Kemudian dengan lembut engkau berbisik di telinga kanan ku
Aku mencintaimu

Bagi Iwan, sastra juga menjadi ruang untuk mengolah kata dan gagasan. Kebiasaan membaca karya sastra membuat kosakata dan pilihan kalimat semakin kaya.

Baca Juga: Jejak skandal napi super kaya di Lapas Cibinong: Punya kamar dengan TV-kulkas hingga jalur rahasia

Hal tersebut kemudian terbawa dalam aktivitas profesionalnya ketika harus menjelaskan gagasan, memfasilitasi pembahasan, ataupun menyampaikan sesuatu kepada orang lain.

Ia pun masih menyimpan tulisan-tulisan lama dari masa sekolah hingga kuliah. Ada keinginan untuk kembali membuka, memilah, dan melihat karya-karya tersebut setelah tersimpan cukup lama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

CERPEN: Surat cinta untuk adinda

Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:39 WIB
X