Mataku terbelalak. Matahari telah memasang aura cemerlang yang menembus rongga jendela, mendarat tepat di atas meja tidurku. Aku melirik ke sisi ranjang, seperti biasa lelakiku telah rapi dengan baju berkerah melipis bekas setrikaku semalam.
Tangannya tengah sibuk memutar dasi, diselipkan satu sisi di antara lengkungan yang teratur. Kurasa ia sengaja melakukannya, sehingga lengkungan dasi itu menjadi segitiga terbalik yang menurut sebagian besar orang selalu rapi.
"Kenapa kau tak mau menulis untukku," aku mengawali percakapan pagi ini.
Baca Juga: Kapolres Subang datangi SLB Trituna, beri motivasi siswa untuk percaya diri raih cita-cita
Tampaknya lelaki pilihan ayahku, yang mengawiniku dua tahun silam itu, tetaplah enggan membuka mulutnya seperti biasanya.
"Kenapa? Hatiku tak mungkin akan terbagi, bahkan saat diksi yang kau lontarkan selalu memotonginya sekalipun,” suaraku memuncak.
Lelaki berkepala dua itu mondar-mandir tak karuan. Aku segera beranjak mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa. Ia tak menghiraukanku sama sekali.
Diraihnya tas yang biasa menemaninya saat pergi ke kantor, lalu dalam sekejap ia hilang ditelan pintu. Hari ini, sekali lagi. Aku hanya bisa menunggu lelaki itu, sampai ia pulang larut nanti.
Baca Juga: Usai tugas HUT RI ke-81, Paskibraka Subang dapat kadeudeuh dari Kang Rey
Rasanya hari ini jarum jam memang sengaja melambat. Sejak kepergian lelakiku, jarum pendek itu hanya beranjak sepuluh langkah dari tempatnya berlabuh.
Padahal kepalaku mulai terasa berat mendengar detak-detaknya yang terus beriringan. Namun tampaknya, mereka tak ingin berhenti sebelum tenaganya benar-benar habis.
Kucoba mengalihkan fokus pada hal lain. Mataku mulai menjelajah seisi kamar dengan seksama, tampak koran lusuh di atas meja yang telah ditinggalkan sang mentari pagi.
Saat memandanginya lebih lama, samar-samar sulur ingatan membawaku pada masa kuliah lima tahun silam. Jauh sebelum aku mengenal dan menikah dengan lelaki yang sekarang mendampingi hidupku.
Artikel Terkait
CERPEN: Takbir Padang Karbala
CERPEN: Pelangi purba di langit Melayu
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
CERPEN: Lepasin aja, Kal
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
CERPEN: Kota di atas bayangan
Di balik romantisme hujan, diskusi semiotika dan feminis cerpen Fileski digelar di Madiun