CERPEN: Surat cinta untuk adinda

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:39 WIB
Ilustrasi - Surat cinta untuk adinda
Ilustrasi - Surat cinta untuk adinda

 

Mataku terbelalak. Matahari telah memasang aura cemerlang yang menembus rongga jendela, mendarat tepat di atas meja tidurku. Aku melirik ke sisi ranjang, seperti biasa lelakiku telah rapi dengan baju berkerah melipis bekas setrikaku semalam.

Tangannya tengah sibuk memutar dasi, diselipkan satu sisi di antara lengkungan yang teratur. Kurasa ia sengaja melakukannya, sehingga lengkungan dasi itu menjadi segitiga terbalik yang menurut sebagian besar orang selalu rapi. 

"Kenapa kau tak mau menulis untukku," aku mengawali percakapan pagi ini. 

Baca Juga: Kapolres Subang datangi SLB Trituna, beri motivasi siswa untuk percaya diri raih cita-cita

Tampaknya lelaki pilihan ayahku, yang mengawiniku dua tahun silam itu, tetaplah enggan membuka mulutnya seperti biasanya. 

"Kenapa? Hatiku tak mungkin akan terbagi, bahkan saat diksi yang kau lontarkan selalu memotonginya sekalipun,” suaraku memuncak. 

Lelaki berkepala dua itu mondar-mandir tak karuan. Aku segera beranjak mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa. Ia tak menghiraukanku sama sekali.

Diraihnya tas yang biasa menemaninya saat pergi ke kantor, lalu dalam sekejap ia hilang ditelan pintu. Hari ini, sekali lagi. Aku hanya bisa menunggu lelaki itu, sampai ia pulang larut nanti. 

Baca Juga: Usai tugas HUT RI ke-81, Paskibraka Subang dapat kadeudeuh dari Kang Rey

Rasanya hari ini jarum jam memang sengaja melambat. Sejak kepergian lelakiku, jarum pendek itu hanya beranjak sepuluh langkah dari tempatnya berlabuh.

Padahal kepalaku mulai terasa berat mendengar detak-detaknya yang terus beriringan. Namun tampaknya, mereka tak ingin berhenti sebelum tenaganya benar-benar habis. 

Kucoba mengalihkan fokus pada hal lain. Mataku mulai menjelajah seisi kamar dengan seksama, tampak koran lusuh di atas meja yang telah ditinggalkan sang mentari pagi.

Saat memandanginya lebih lama, samar-samar sulur ingatan membawaku pada masa kuliah lima tahun silam. Jauh sebelum aku mengenal dan menikah dengan lelaki yang sekarang mendampingi hidupku. 

Baca Juga: Jejak karier Kombes Jerrold Kumontoy sang komandan upacara penurunan bendera RI, dari Akpol hingga perwira Brimob

Halaman:

Artikel Selanjutnya

CERPEN: Takbir Padang Karbala

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

CERPEN: Surat cinta untuk adinda

Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:39 WIB
X