GENMILENIAL.ID — Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Shovi Akbar Maulana, siswa MAN 1 Pasuruan, untuk meraih prestasi di tingkat nasional.
Akbar berhasil lolos sebagai peserta Parlemen Remaja DPR RI dan menjadi satu-satunya pelajar dari Kabupaten Pasuruan yang terpilih dalam program tersebut.
Di balik keberhasilan itu, terdapat perjuangan keluarga yang tidak mudah.
Ayah Akbar telah meninggal dunia, sedangkan sang ibu, Nuriyati, harus bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memastikan pendidikan anak-anaknya tetap berjalan.
Baca Juga: Persib Tumbang 1-2 dari Persija, Kang Akur serukan bobotoh Subang jaga kondusivitas
Bagi Nuriyati, pendidikan menjadi harapan yang terus diperjuangkan meski kondisi keluarga penuh keterbatasan.
Ia berusaha menjalankan peran sebagai orang tua sekaligus menopang kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
“Sebagai seorang ibu, saya hanya ingin anak-anak tetap sekolah dan punya masa depan. Walaupun ayahnya sudah tidak ada dan saya harus bekerja serabutan, saya akan tetap berusaha semampu saya,” ujar Nuriyati.
Bangga anak bisa tembus tingkat nasional
Keberhasilan Akbar mengikuti Parlemen Remaja DPR RI menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarganya.
Baca Juga: Viral sopir TransJakarta Monas-Pulogadung diduga ugal-ugalan hingga bikin penumpang terjatuh
Nuriyati mengaku bangga sekaligus terharu karena anaknya mampu mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program tingkat nasional tersebut.
Menurutnya, pencapaian Akbar bukan hanya tentang keberhasilan dalam sebuah program, tetapi juga menjadi bukti bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang untuk terus mengejar pendidikan dan cita-cita.
“Saya sangat bangga dengan Akbar. Saya tidak menyangka dia bisa sampai ke tingkat nasional. Bagi saya, ini bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga tentang perjuangan anak saya untuk membuktikan bahwa keadaan keluarga tidak menghalangi dia untuk terus belajar,” katanya.
Artikel Terkait
Kisah inspiratif: Anak sekolah di Papua datangi guru untuk berbagi buah-sayur, wujud balas budi dalam kesederhanaan
Momen haru warga Sumbar siapkan 5 ton rendang buat korban gempa NTT: Dulu kami dibantu, kini giliran kita
Tertimbun reruntuhan gempa NTT, nenek 84 tahun ditemukan selamat meski tak makan-minum selama 4 hari
Saatnya kita yang bergerak, bantu mitra jurnalis Promedia korban gempa NTT
Ki Maher lihat keraton sebagai pertahanan budaya dan penggerak ekonomi kerakyatan
Lewat seni dan budaya, FKUB Subang perkuat kerukunan lintas agama
Cerita perjuangan Asdar, siswa di pedalaman Nias yang sebrangi sungai 4 kali saat menuju sekolah