Perang dagang AS-China mulai mencair: Negosiasi di Kuala Lumpur isyaratkan babak baru hubungan ekonomi global

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Senin, 27 Oktober 2025 | 00:17 WIB
Menyoroti fakta terkini terkait perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China (Instagram.com/@realdonaldtrump - @xi_jinping_)
Menyoroti fakta terkini terkait perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China (Instagram.com/@realdonaldtrump - @xi_jinping_)

GENMILENIAL.ID – Ketegangan ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan China mulai menurun setelah pejabat ekonomi kedua negara bertemu di Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu, 25 Oktober 2025.

Pertemuan itu berlangsung di sela-sela KTT ASEAN dan disebut sebagai upaya meredakan perang dagang yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif hingga 100 persen terhadap produk China mulai 1 November 2025.

Ancaman tersebut muncul sebagai respons atas langkah Beijing yang memperluas kontrol ekspor logam tanah jarang, material vital bagi industri teknologi global.

Baca Juga: Tapak Suci Subang gelar TOT, siapkan 85 kader pelatih untuk jawab kekurangan tenaga instruktur di sekolah

Namun, tanda-tanda positif muncul setelah kedua belah pihak menyatakan kesediaan untuk melanjutkan dialog dan mencari solusi yang lebih konstruktif.

“Tingkat pembahasan sejauh ini sangat konstruktif, dan kami berharap dapat melanjutkannya besok pagi,” kata juru bicara Kementerian Keuangan AS seperti dikutip Reuters, Senin, 27 Oktober 2025.

Daftar hitam ekspor jadi sumber konflik baru

Ketegangan antara Washington dan Beijing memuncak setelah pemerintah AS memperluas daftar hitam ekspor yang mencakup ribuan perusahaan China.

Langkah itu membuat banyak perusahaan teknologi di China kehilangan akses ke perangkat keras dan lunak buatan AS.

Baca Juga: Dilema Whoosh: Transparansi kontrak, utang membengkak, dan opsi restrukturisasi jadi jalan tengah

Menanggapi hal itu, juru bicara Kementerian Keuangan China, Li Chenggang, menegaskan bahwa kebijakan pembatasan ekspor logam tanah jarang adalah bentuk perlindungan nasional yang berdampak global.

“Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada China dan AS, tetapi juga mengganggu rantai pasok global,” ujar Li dalam pertemuan KTT ASEAN di Malaysia.

Kondisi ini membuat hubungan dagang kedua negara berada di titik rawan, meski pertemuan di Kuala Lumpur dianggap menjadi langkah awal menuju gencatan ekonomi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X