Jangankan dibawa keluar kantor, terkadang pergi ke kantin sendirian pun merupakan sesuatu yang mereka butuhkan.
Bukan karena mereka tidak menyukai rekan kerjanya, tetapi karena manusia sesekali membutuhkan jarak dari lingkungan yang setiap hari menuntutnya untuk bekerja, berkomunikasi, berkoordinasi, dan memenuhi berbagai target.
Tidak selalu demikian, tentu saja. Tetapi terkadang, mengambil jarak adalah cara manusia menjaga kewarasannya di tengah tuntutan kehidupan.
Saya melihatnya sebagai salah satu cara manusia bertahan dalam sebuah lingkungan kerja, agar pekerjaan tidak berubah menjadi seluruh kehidupan.
Saya kemudian memaknai kemerdekaan dari sudut yang lebih sederhana.
Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan. Ia juga tentang terbebasnya manusia dari belenggu waktu dan tenaga yang membatasi mereka untuk bersama orang-orang yang mereka cintai.
Dahulu, waktu dan tenaga manusia dirampas melalui perbudakan, kerja paksa, dan berbagai bentuk penindasan.
Baca Juga: Jalur Malang-Lumajang ditutup imbas kebakaran Gunung Bromo, ini akses alternatif yang masih dibuka
Hari ini, seorang pekerja secara sadar menukar waktu dan tenaganya dengan upah. Ia memberikan lima atau enam hari dalam seminggu kepada pekerjaannya, sementara ada rumah yang menunggu kepulangannya.
Maka pada hari kemerdekaan, jadilah merdeka.
Berhentilah sejenak dari meja kerja. Tinggalkan seragam. Matikan komputer. Tidak perlu lomba. Tidak perlu pidato. Tidak perlu kewajiban untuk terlihat kompak.
Pulanglah.
Pulang kepada mereka yang selama ini mungkin hanya mendapatkan sisa waktu setelah pekerjaan selesai.
Baca Juga: Cari potongan kaki korban mutilasi di Kali Licin Depok, polisi kerahkan anjing pelacak K9