Arnold J. Toynbee dalam A Study of History berpendapat bahwa peradaban muncul dan jatuh berdasarkan responnya terhadap tantangan, dan bahwa ada pola-pola spiritual yang mendasari siklus sejarah.
Dimensi etis dan spiritual sejarah
Bagi sejarawan transendental, sejarah mengandung pelajaran moral dan spiritual.
Mereka tidak takut untuk menilai tindakan masa lalu berdasarkan prinsip-prinsip etika universal, atau untuk mencari jejak-jejak kebijaksanaan dan spiritualitas yang mungkin telah terlupakan.
Ini bukan berarti menghakimi masa lalu dengan standar masa kini, tetapi mencari nilai-nilai yang melampaui batasan waktu. Misalnya, bagaimana nilai-nilai toleransi atau keadilan telah diwujudkan atau dilanggar sepanjang sejarah, dan apa implikasinya bagi kita sekarang.
Baca Juga: Menteri Bahlil minta warga bijak tanggapi foto dugaan kerusakan Raja Ampat yang viral
Narasi sebagai penciptaan makna
Sejarawan, dalam arti transendental, adalah pencerita (storyteller) yang merangkai fakta-fakta menjadi narasi yang koheren. Namun, narasi ini bukan fiksi.
Sebagaimana dikemukakan oleh Hayden White dalam Metahistory, narasi sejarah itu sendiri adalah sebuah konstruksi, sebuah cara kita memberi makna pada kekacauan peristiwa.
Melalui narasi, sejarawan tidak hanya merekam jejak, tetapi juga membentuk memori kolektif, dan dengan demikian, mempengaruhi identitas dan arah suatu bangsa.
Mereka membantu kita memahami 'siapa kita' dan 'hendak ke mana kita' melalui cermin masa lalu.
Baca Juga: 4 Perusahaan tambang nikel di Raja Ampat dicabut izinnya, berpotensi terkena pidana
Sejarawan dan kampus: Sebuah hubungan simbiotik
Meskipun sejarawan 'tidak dilahirkan oleh kampus' dalam artian pengalaman dan kepekaan intuitif mereka, kampus dan institusi akademik tetaplah vital. Kampus adalah tempat di mana:
1. Metodologi diajarkan