esai

ESAI: Surat-surat yang membangun semesta: Cinta Kahlil Gibran dan May Ziadah

Jumat, 23 Mei 2025 | 22:13 WIB
Gus Nas Jogja (kanan), Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Bagi Gibran, May adalah cerminan dari keindahan yang tak terhingga, sebuah ideasi cinta yang sempurna yang kemudian ia tuangkan dalam setiap bait puisinya, menyentuh jutaan jiwa yang mencari makna serupa.

Pada akhirnya, di setiap bait puisi Gibran yang kita kutip, di setiap kalimat tentang cinta yang menggetarkan, mungkin ada bisikan nama May Ziadah.

Bisikan yang mengingatkan kita bahwa cinta sejati, dalam bentuknya yang paling murni, mampu membangun semesta di atas lembaran kertas, dan menginspirasi keindahan abadi yang tak lekang oleh waktu.

Baca Juga: Terdakwa Zulkarnaen bantah Budi Arie terlibat judol: Saya bisa pertanggungjawabkan dunia akhirat

*****

Surat sang purnama: Kisah cinta yang melampaui jarak dan waktu

Di setiap bait puisi Kahlil Gibran yang mengalun, menggetarkan jiwa-jiwa yang haus akan makna, ada sebuah bisikan.

Bukan angin sepoi, bukan gumaman daun, melainkan resonansi dari sebuah nama: May Ziadah.

Seolah, setiap kata yang ditulis Gibran adalah surat yang tak pernah sampai secara fisik, namun telah mencapai alam tertinggi hati, di mana cinta tak lagi terikat oleh rupa dan ruang.

Bayangkan, seorang pujangga, di tengah gemuruh kota yang tak pernah tidur, menatap lembaran kertas putih.

Baca Juga: Budi Arie terseret kasus judol, diduga terima jatah 50 persen saat jadi Menkominfo

Bukan wajah kekasih yang ada di hadapannya, melainkan bayangan yang terukir dari untaian kata-kata. Dua puluh tahun.

Dua dasawarsa. Jarak yang membentang dari dinginnya New York hingga hangatnya Kairo. Selama itu, surat-surat menjadi sayap, membawa dua jiwa melintasi samudera, menembus batas-batas yang fana.

Puisi-puisinya, yang kini menjadi mercusuar bagi hati yang mencari cinta, bukan lahir dari sekadar imajinasi.

Mereka adalah serpihan jiwa Gibran yang mencintai May, seorang perempuan yang kecerdasannya sebanding dengan keindahan jiwanya.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB