ESAI: Surat-surat yang membangun semesta: Cinta Kahlil Gibran dan May Ziadah

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 23 Mei 2025 | 22:13 WIB
Gus Nas Jogja (kanan), Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja (kanan), Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Baca Juga: Kejagung sita barang bukti dari rumah bos Sritex terkait dugaan korupsi kredit triliunan

Mereka tak pernah bersua dalam dimensi raga, namun jiwa mereka telah bertemu di taman aksara, di mana setiap kalimat adalah sentuhan, setiap paragraf adalah pelukan.

Ketika Gibran menulis tentang cinta yang memberi kebebasan, cinta yang tak mengenal kepemilikan, dan cinta yang tumbuh di luar batas duniawi, ia sedang menuliskan esensi dari hubungannya dengan May.

Bukankah cinta yang paling murni adalah cinta yang tidak terpenjara oleh materi? Cinta yang hanya bersemi di kedalaman pemahaman, di puncak apresiasi jiwa, di mana raga hanya menjadi cangkang?

Setiap baris yang kita kutip, "Cintailah satu sama lain, tetapi jangan jadikan cinta itu belenggu," seolah adalah bisikan rahasia Gibran kepada May, dan May kepada Gibran.

Baca Juga: Bareskrim pastikan ijazah Jokowi asli, hasil forensik: Identik dengan alumni UGM 1985

Sebuah perjanjian agung di antara bintang-bintang, bahwa cinta mereka akan menjadi lebih besar dari sekadar pertemuan fisik.

Ia akan menjadi inspirasi abadi, sebuah monumen bagi setiap jiwa yang percaya bahwa cinta sejati mampu membangun semesta di atas lembaran kertas, merajut bintang-bintang dari tinta, dan mengukir keindahan yang tak akan lekang oleh waktu.

Maka, setiap kali kita membaca Gibran, mari kita dengarkan bisikan itu.

Bisikan tentang May Ziadah, sang purnama yang tak pernah bisa ia sentuh, namun sinarnya mengisi seluruh semesta kepenyairannya, menciptakan keindahan yang menakjubkan bagi jutaan hati yang terpukau.

Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X