ESAI: Surat-surat yang membangun semesta: Cinta Kahlil Gibran dan May Ziadah

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 23 Mei 2025 | 22:13 WIB
Gus Nas Jogja (kanan), Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja (kanan), Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Bukan kebetulan jika banyak puisi Gibran memancarkan kedalaman cinta yang universal, yang melampaui batas rupa dan materi.

Dalam surat-suratnya yang kemudian dibukukan dengan judul 'Kahlil Gibran: Surat-surat Cinta kepada May Ziadah', kita menemukan inti dari inspirasi itu.

Baca Juga: Kuota FLPP naik, Menteri PKP bahas strategi capai target 350.000 rumah subsidi 2025

Di sana, Gibran mengungkapkan kerinduan yang membakar, kekaguman yang tak terbatas, dan pemahaman yang mendalam tentang esensi cinta sejati—cinta yang bukan tentang kepemilikan, melainkan tentang pertumbuhan dan kebebasan jiwa.

Memang, tidak semua puisinya secara harfiah ditulis untuk May. Ada puisi-puisi tentang alam, tentang Tuhan, tentang kehidupan. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa May Ziadah turut menjadi inspirasi utama bagi sang pujangga.

Kehadirannya dalam hidup Gibran, meskipun hanya melalui kata-kata tertulis, telah memperkaya lanskap batinnya, memberinya sumur inspirasi yang tak pernah kering.

Bisa jadi, justru karena mereka tak pernah bersua, cinta itu tetap murni, ideal, dan tak ternodai oleh realitas duniawi.

Baca Juga: Polres Subang tangkap empat pelaku premanisme, modus peras sopir truk

Mereka membangun semesta mereka sendiri melalui surat-surat, sebuah utopia di mana jiwa adalah segalanya, dan raga hanyalah selubung.

Dalam keterbatasan fisik itulah, cinta mereka menemukan kebebasan tertinggi untuk bereksplorasi dan berekspresi.

Pelajaran dari cinta jarak jauh

Kisah Gibran dan May adalah pengingat yang kuat bagi kita di era serba instan ini.

Di mana hubungan seringkali dinilai dari kecepatan respons atau jumlah tatap muka, mereka menunjukkan bahwa koneksi terdalam lahir dari komunikasi yang substansial, dari kesabaran, dan dari kerelaan untuk benar-benar memahami jiwa orang lain.

Baca Juga: Wamenaker desak Sritex bayar pesangon eks karyawan meski komisaris utama terjerat kasus korupsi

Mereka membuktikan bahwa cinta sejati tidak memerlukan keberadaan fisik yang konstan. Ia membutuhkan kedalaman emosi, kejujuran intelektual, dan kesetiaan spiritual.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X