ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB
Kudrat Kanda, Pemerhati Sosial
Kudrat Kanda, Pemerhati Sosial

Baca Juga: Kronologi kecelakaan maut di Turnamen Drag Race Sulut, mobil diduga bermasalah saat ke titik finis

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang air, udara, atau sistem distribusi. Ia adalah cermin dari cara manusia memposisikan dirinya di hadapan karunia Tuhan.

Apakah ia melihat dirinya sebagai penjaga yang mengalirkan, atau sebagai pemilik yang berhak membatasi?

Jika manusia lupa bahwa ia hanya perantara, maka ia akan mudah menganggap apa yang dikuasainya sebagai miliknya sepenuhnya.

Dari situlah lahir kecenderungan untuk mengatur secara berlebihan, membatasi secara ketat, dan tanpa sadar menghilangkan ruh dari apa yang diaturnya.

Baca Juga: Insiden mobil selip di Drag Race Kotamobagu tewaskan 8 orang, ajang balap yang berubah jadi tragedi

Maka yang perlu dijaga bukan hanya keberadaan sumber daya, tetapi juga makna di baliknya.

Bahwa di setiap tetes air dan setiap hembusan udara, ada pesan tentang kemurahan yang tidak pilih kasih. Dan tugas manusia seharusnya adalah menjaga agar pesan itu tetap terasa, bukan justru menutupinya dengan lapisan-lapisan yang membuatnya semakin jauh dari jangkauan.

Dengan demikian, mengelola tidak berarti memutus, dan mengatur tidak harus menghilangkan keberkahan.

Selama manusia masih menyadari batasnya, masih mungkin baginya untuk membangun sistem yang adil: sistem yang menjaga keteraturan tanpa menghilangkan kemudahan, dan mengatur tanpa mematikan ruh dari pemberian Tuhan itu sendiri.

Kundrat Kanda, Pemerhati Sosial

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB
X