Baca Juga: Kronologi kecelakaan maut di Turnamen Drag Race Sulut, mobil diduga bermasalah saat ke titik finis
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang air, udara, atau sistem distribusi. Ia adalah cermin dari cara manusia memposisikan dirinya di hadapan karunia Tuhan.
Apakah ia melihat dirinya sebagai penjaga yang mengalirkan, atau sebagai pemilik yang berhak membatasi?
Jika manusia lupa bahwa ia hanya perantara, maka ia akan mudah menganggap apa yang dikuasainya sebagai miliknya sepenuhnya.
Dari situlah lahir kecenderungan untuk mengatur secara berlebihan, membatasi secara ketat, dan tanpa sadar menghilangkan ruh dari apa yang diaturnya.
Baca Juga: Insiden mobil selip di Drag Race Kotamobagu tewaskan 8 orang, ajang balap yang berubah jadi tragedi
Maka yang perlu dijaga bukan hanya keberadaan sumber daya, tetapi juga makna di baliknya.
Bahwa di setiap tetes air dan setiap hembusan udara, ada pesan tentang kemurahan yang tidak pilih kasih. Dan tugas manusia seharusnya adalah menjaga agar pesan itu tetap terasa, bukan justru menutupinya dengan lapisan-lapisan yang membuatnya semakin jauh dari jangkauan.
Dengan demikian, mengelola tidak berarti memutus, dan mengatur tidak harus menghilangkan keberkahan.
Selama manusia masih menyadari batasnya, masih mungkin baginya untuk membangun sistem yang adil: sistem yang menjaga keteraturan tanpa menghilangkan kemudahan, dan mengatur tanpa mematikan ruh dari pemberian Tuhan itu sendiri.
Kundrat Kanda, Pemerhati Sosial
Artikel Terkait
Eksplorasi filosofis, menggali makna alam semesta dari perspektif para filsuf dunia
Perspektif mendalam para filsuf tentang alam semesta
ESAI: Surat-surat yang membangun semesta: Cinta Kahlil Gibran dan May Ziadah
ESAI: Satu Suro, ketika semesta berbisik dan energi mengamini
Tabayyun materi mens rea, MUI ungkap dua poin penting hasil pertemuan dengan Pandji Pragiwaksono
Pandji Pragiwaksono datangi Polda Metro Jaya, minta penjelasan soal pelaporan materi stand up ‘Mens Rea’
ESAI: Peran jurnalis dalam perkembangan sastra Indonesia