ESAI: Satu Suro, ketika semesta berbisik dan energi mengamini

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 28 Juni 2025 | 15:50 WIB
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

 

Satu Suro, penanda dimulainya Tahun Baru Jawa berdasarkan kalender Jawa, bukan sekadar pergantian angka.

Bagi masyarakat Jawa, khususnya mereka yang mendalami mistisisme dan makrifat, Satu Suro adalah sebuah gerbang gaib, momen ketika dimensi spiritual terasa lebih dekat, dan kosmologi Jawa menampakkan dirinya dengan lebih gamblang.

Ini adalah waktu untuk kontemplasi, introspeksi, dan merasakan getaran semesta yang tak kasat mata, sebuah fenomena yang, jika didekati secara ilmiah, dapat diinterpretasikan melalui lensa semiotika dan bahkan resonansi gelombang.

Dari perspektif semiotika, Satu Suro adalah sebuah teks besar yang kaya akan simbol dan makna. Setiap ritual, setiap tradisi, adalah tanda yang menunjuk pada realitas transenden.

Baca Juga: Bukan janji kosong! Kang Rey dan Gubernur Dedi Mulyadi buktikan komitmen, 416 pedagang terima santunan lapak Rp5 juta

Pada bulan Suro, ada ritual pencucian pusaka atau yang lazim disebut Jamasan Pusaka. Ini bukan hanya membersihkan benda mati.

Secara semiotis, pencucian pusaka (keris, tombak, dsb.) adalah simbol dari pembersihan diri, penyucian jiwa dari segala kotoran batin (dosa, kesombongan, iri hati) menjelang masuknya tahun yang baru.

Air yang digunakan bisa menjadi penanda kemurnian, sementara prosesnya adalah petanda untuk kembali pada fitrah yang bersih. Mirip dengan konsep tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dalam tradisi sufisme Islam.

Malam Satu Suro juga identik dengan Tapa Bisu dan Mubeng Beteng. Ritual berjalan mengelilingi keraton atau tempat sakral dalam keheningan total adalah simbol dari tapa brata, pengendalian diri dari nafsu duniawi dan kebisingan pikiran.

Baca Juga: Operasional kereta cepat Whoosh sering terganggu akibat layang-layang, KCIC catat 20 kejadian di Juni

Keheningan adalah representasi dari kekosongan yang diperlukan untuk mendengar suara hati nurani dan bisikan Ilahi.

Dalam semiotika spasial, mengelilingi keraton juga dapat diartikan sebagai upaya menyelaraskan diri dengan pusat kosmos yang dianggap bersemayam di sana, menciptakan lingkaran energi positif.

Bulan Suro juga lekat dengan ritual Sesaji dan Ubo Rampe. Berbagai macam sesaji (makanan, bunga, kemenyan) adalah tanda-tanda dari rasa syukur dan persembahan kepada alam semesta dan entitas spiritual.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X