Baca Juga: Curhatan pelaku pariwisata Labuan Bajo usai viral foto liburan Jessica Mila cs di Pulau Padar
Tentu, tidak semua pengaturan adalah kesalahan. Dalam batas tertentu, pengelolaan memang diperlukan agar sumber daya tidak habis dan bisa dibagikan secara merata.
Namun persoalannya muncul ketika pengelolaan berubah menjadi penguasaan, dan pengaturan berubah menjadi penghalang.
Ketika yang seharusnya menjadi sarana menjaga justru menjadi alat membatasi, di situlah terjadi pergeseran makna.
Yang hilang bukan sekadar kemudahan akses, tetapi juga rasa akan keberkahan. Keberkahan bukan hanya tentang banyaknya sesuatu, tetapi tentang kemudahan, keluasan, dan ketiadaan hambatan yang menyesakkan.
Baca Juga: MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 umumkan pemenang, siap wakili Indonesia ke ajang regional
Ketika air melimpah tetapi sulit dijangkau, ketika udara ada tetapi hanya bisa didapat dengan harga tertentu, maka yang berkurang bukan zatnya, melainkan keberkahannya.
Dalam keadaan seperti itu, manusia seakan-akan memutus aliran makna dari pemberian Tuhan.
Bukan karena Tuhan berhenti memberi, tetapi karena manusia mengubah cara pemberian itu hadir dalam kehidupan.
Apa yang semula menjadi tanda kemurahan berubah menjadi objek transaksi.
Apa yang semula mendekatkan manusia pada kesadaran akan Tuhan justru berpotensi menjauhkannya, karena tertutup oleh lapisan-lapisan prosedur dan kepentingan.
Lebih jauh lagi, ketika administrasi menjadi penentu utama akses terhadap kebutuhan dasar, maka nilai kemanusiaan pun ikut teruji.
Apakah seseorang berhak mendapatkan pertolongan karena ia manusia, atau karena ia memenuhi syarat-syarat tertentu?
Pertanyaan ini menjadi penting, karena di sanalah terlihat apakah sistem yang dibangun masih berpijak pada kemanusiaan, atau telah bergeser menjadi sekadar mekanisme yang dingin.
Artikel Terkait
Eksplorasi filosofis, menggali makna alam semesta dari perspektif para filsuf dunia
Perspektif mendalam para filsuf tentang alam semesta
ESAI: Surat-surat yang membangun semesta: Cinta Kahlil Gibran dan May Ziadah
ESAI: Satu Suro, ketika semesta berbisik dan energi mengamini
Tabayyun materi mens rea, MUI ungkap dua poin penting hasil pertemuan dengan Pandji Pragiwaksono
Pandji Pragiwaksono datangi Polda Metro Jaya, minta penjelasan soal pelaporan materi stand up ‘Mens Rea’
ESAI: Peran jurnalis dalam perkembangan sastra Indonesia