ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB
Kudrat Kanda, Pemerhati Sosial
Kudrat Kanda, Pemerhati Sosial

Baca Juga: Curhatan pelaku pariwisata Labuan Bajo usai viral foto liburan Jessica Mila cs di Pulau Padar

Tentu, tidak semua pengaturan adalah kesalahan. Dalam batas tertentu, pengelolaan memang diperlukan agar sumber daya tidak habis dan bisa dibagikan secara merata.

Namun persoalannya muncul ketika pengelolaan berubah menjadi penguasaan, dan pengaturan berubah menjadi penghalang.

Ketika yang seharusnya menjadi sarana menjaga justru menjadi alat membatasi, di situlah terjadi pergeseran makna.

Yang hilang bukan sekadar kemudahan akses, tetapi juga rasa akan keberkahan. Keberkahan bukan hanya tentang banyaknya sesuatu, tetapi tentang kemudahan, keluasan, dan ketiadaan hambatan yang menyesakkan.

Baca Juga: MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 umumkan pemenang, siap wakili Indonesia ke ajang regional

Ketika air melimpah tetapi sulit dijangkau, ketika udara ada tetapi hanya bisa didapat dengan harga tertentu, maka yang berkurang bukan zatnya, melainkan keberkahannya.

Dalam keadaan seperti itu, manusia seakan-akan memutus aliran makna dari pemberian Tuhan.

Bukan karena Tuhan berhenti memberi, tetapi karena manusia mengubah cara pemberian itu hadir dalam kehidupan.

Apa yang semula menjadi tanda kemurahan berubah menjadi objek transaksi.

Baca Juga: Akun Instagram KSOP Labuan Bajo digeruduk warganet, tuntut penjelasan usai viral postingan Jessica Mila liburan di Padar saat pelayaran ditutup

Apa yang semula mendekatkan manusia pada kesadaran akan Tuhan justru berpotensi menjauhkannya, karena tertutup oleh lapisan-lapisan prosedur dan kepentingan.

Lebih jauh lagi, ketika administrasi menjadi penentu utama akses terhadap kebutuhan dasar, maka nilai kemanusiaan pun ikut teruji.

Apakah seseorang berhak mendapatkan pertolongan karena ia manusia, atau karena ia memenuhi syarat-syarat tertentu?

Pertanyaan ini menjadi penting, karena di sanalah terlihat apakah sistem yang dibangun masih berpijak pada kemanusiaan, atau telah bergeser menjadi sekadar mekanisme yang dingin.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB
X