ESAI: SLB Negeri Jombang, puisi mengajarkan arti menjadi manusia seutuhnya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 13 Februari 2026 | 02:12 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Bukan sekadar wacana, JCS tegaskan kolaborasi nyata kota kreatif DIY di awal 2026

Barangkali, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi apakah murid SLB mampu mengikuti standar pendidikan, melainkan apakah standar pendidikan kita cukup manusiawi untuk mengakui mereka sepenuhnya.

Jika puisi dapat hidup di ruang ujian, jika teknologi dapat menjadi cahaya yang tak memadamkan kehangatan guru, maka apa alasan kita untuk terus memisahkan kecerdasan dari empati?

Dan dalam kehidupan kita masing-masing, sudahkah kita memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini terlalu pelan untuk didengar, padahal di sanalah sering tersembunyi pelajaran paling jujur tentang arti menjadi manusia.

Baca Juga: Korban miras oplosan Subang jadi 9 tewas, pemasok dan pemilik toko ditangkap polisi

Berikut dua puisi Fileski Walidha Tanjung yang dijadikan materi ujian di SLB Negeri Jombang:

Musim yang selalu kembali

Kau adalah musim
yang selalu kembali
meski kalender dunia selalu berubah.

Di jiwamu,
pelajaran bukan sekadar ilmu,
tetapi doa yang disisipkan
ke dalam ruang-ruang kosong
dalam hati kami.

Ketulusanmu adalah mata air:
pengabdianmu adalah sungai yang tak pernah kering
mengantar kehidupan
Kau hadir
ketika kami belum tahu arah melangkah,
kau sabar
ketika kami salah mengeja dunia.

Baca Juga: Usai 8 warga tewas miras oplosan, Bupati Subang perintahkan sapu bersih penjual ilegal

Engkau menghadirkan energi,
mengajak kami menapak lebih jauh
dijalan pengetahuan.

Guruku,
di pundakmu Indonesia bertumpu,
di tanganmu Indonesia dibentuk,
di jiwamu Indonesia bertumbuh.

Nama-nama guruku

Di balik setiap kemajuan negeri,
selalu ada nama seorang guru
yang bekerja dalam sunyi.
berdiri 1945
dan sejak itu,
ribuan ruang kelas menjadi ladang
tempat cahaya disemai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X