Baca Juga: Bukan sekadar wacana, JCS tegaskan kolaborasi nyata kota kreatif DIY di awal 2026
Barangkali, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi apakah murid SLB mampu mengikuti standar pendidikan, melainkan apakah standar pendidikan kita cukup manusiawi untuk mengakui mereka sepenuhnya.
Jika puisi dapat hidup di ruang ujian, jika teknologi dapat menjadi cahaya yang tak memadamkan kehangatan guru, maka apa alasan kita untuk terus memisahkan kecerdasan dari empati?
Dan dalam kehidupan kita masing-masing, sudahkah kita memberi ruang bagi suara-suara yang selama ini terlalu pelan untuk didengar, padahal di sanalah sering tersembunyi pelajaran paling jujur tentang arti menjadi manusia.
Baca Juga: Korban miras oplosan Subang jadi 9 tewas, pemasok dan pemilik toko ditangkap polisi
Berikut dua puisi Fileski Walidha Tanjung yang dijadikan materi ujian di SLB Negeri Jombang:
Musim yang selalu kembali
Kau adalah musim
yang selalu kembali
meski kalender dunia selalu berubah.
Di jiwamu,
pelajaran bukan sekadar ilmu,
tetapi doa yang disisipkan
ke dalam ruang-ruang kosong
dalam hati kami.
Ketulusanmu adalah mata air:
pengabdianmu adalah sungai yang tak pernah kering
mengantar kehidupan
Kau hadir
ketika kami belum tahu arah melangkah,
kau sabar
ketika kami salah mengeja dunia.
Baca Juga: Usai 8 warga tewas miras oplosan, Bupati Subang perintahkan sapu bersih penjual ilegal
Engkau menghadirkan energi,
mengajak kami menapak lebih jauh
dijalan pengetahuan.
Guruku,
di pundakmu Indonesia bertumpu,
di tanganmu Indonesia dibentuk,
di jiwamu Indonesia bertumbuh.
Nama-nama guruku
Di balik setiap kemajuan negeri,
selalu ada nama seorang guru
yang bekerja dalam sunyi.
berdiri 1945
dan sejak itu,
ribuan ruang kelas menjadi ladang
tempat cahaya disemai.
Artikel Terkait
Puisi : Episode 'Hujan, Desember 2020
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Puisi-puisi pilihan Soe Hok Gie: Suara sunyi yang tak pernah padam
Sinopsis buku antologi puisi 'Gemuruh Palung Hati' karya Ai Lundeng
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme