ESAI: SLB Negeri Jombang, puisi mengajarkan arti menjadi manusia seutuhnya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 13 Februari 2026 | 02:12 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: 9 Warga tewas akibat miras oplosan, Ketua DPRD Subang himbau masyarakat waspada

Ujian praktik TIK yang dijalani Yongki membuka lapisan refleksi lain.

Dengan bantuan fitur Talk Back di Microsoft Word, hambatan penglihatan tidak lagi menjadi tembok, melainkan tantangan yang bisa dinegosiasikan.

Teknologi, yang sering dipuja sebagai simbol kemajuan abstrak, di ruang ini hadir sebagai alat etis. Ia memungkinkan suara menjadi teks, perasaan menjadi dokumen, dan pengalaman menjadi arsip bermakna.

Ketika Yongki menekan tombol Save, ia tidak hanya menyimpan file, tetapi mengafirmasi haknya untuk berkarya.

Filsuf Martin Heidegger pernah mengingatkan, 'Hakikat teknologi bukanlah sesuatu yang teknis' (Hakikat teknologi bukan sekadar alat, melainkan cara manusia menyingkap dunia).

Baca Juga: Pilu kakek Masir, divonis 5 bulan penjara usai tangkap burung cendet di TN Baluran

Dalam konteks ini, teknologi tidak berdiri netral. Ia berpihak. Pertanyaannya selalu, berpihak pada siapa? Di tangan guru seperti Bu Leny Dianita, teknologi berpihak pada kemanusiaan.

Bimbingan yang lembut, koreksi yang menghargai, dan kepercayaan bahwa karya Yongky layak disajikan dengan rapi, semuanya menegaskan bahwa pendidikan sejati selalu mengandung relasi etis.

Paulo Freire menulis, 'Pendidikan sejati adalah praksis: refleksi dan tindakan manusia atas dunia untuk mengubahnya.' Apa yang terjadi di SLB Negeri Jombang adalah praksis dalam bentuk paling sunyi namun revolusioner.

Baca Juga: Pilu kakek Masir, divonis 5 bulan penjara usai tangkap burung cendet di TN Baluran

Tidak ada slogan besar, bukan di panggung megah. Yang ada hanyalah guru, murid, puisi, dan keyakinan bahwa setiap manusia mampu memahami dan dipahami.

Dalam dunia yang terobsesi pada hasil instan, mereka memilih kesabaran. Dalam sistem yang gemar menyeragamkan, mereka merayakan keunikan.

Esai ini bukan perayaan diri saya sebagai penulis, melainkan perayaan perjumpaan. Puisi saya hanyalah medium, maknanya lahir dari suara Raissa dan ketekunan Yongky.

Dari mereka, saya belajar bahwa sastra dan teknologi bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk menegaskan keberadaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X