Baca Juga: 9 Warga tewas akibat miras oplosan, Ketua DPRD Subang himbau masyarakat waspada
Ujian praktik TIK yang dijalani Yongki membuka lapisan refleksi lain.
Dengan bantuan fitur Talk Back di Microsoft Word, hambatan penglihatan tidak lagi menjadi tembok, melainkan tantangan yang bisa dinegosiasikan.
Teknologi, yang sering dipuja sebagai simbol kemajuan abstrak, di ruang ini hadir sebagai alat etis. Ia memungkinkan suara menjadi teks, perasaan menjadi dokumen, dan pengalaman menjadi arsip bermakna.
Ketika Yongki menekan tombol Save, ia tidak hanya menyimpan file, tetapi mengafirmasi haknya untuk berkarya.
Filsuf Martin Heidegger pernah mengingatkan, 'Hakikat teknologi bukanlah sesuatu yang teknis' (Hakikat teknologi bukan sekadar alat, melainkan cara manusia menyingkap dunia).
Baca Juga: Pilu kakek Masir, divonis 5 bulan penjara usai tangkap burung cendet di TN Baluran
Dalam konteks ini, teknologi tidak berdiri netral. Ia berpihak. Pertanyaannya selalu, berpihak pada siapa? Di tangan guru seperti Bu Leny Dianita, teknologi berpihak pada kemanusiaan.
Bimbingan yang lembut, koreksi yang menghargai, dan kepercayaan bahwa karya Yongky layak disajikan dengan rapi, semuanya menegaskan bahwa pendidikan sejati selalu mengandung relasi etis.
Paulo Freire menulis, 'Pendidikan sejati adalah praksis: refleksi dan tindakan manusia atas dunia untuk mengubahnya.' Apa yang terjadi di SLB Negeri Jombang adalah praksis dalam bentuk paling sunyi namun revolusioner.
Baca Juga: Pilu kakek Masir, divonis 5 bulan penjara usai tangkap burung cendet di TN Baluran
Tidak ada slogan besar, bukan di panggung megah. Yang ada hanyalah guru, murid, puisi, dan keyakinan bahwa setiap manusia mampu memahami dan dipahami.
Dalam dunia yang terobsesi pada hasil instan, mereka memilih kesabaran. Dalam sistem yang gemar menyeragamkan, mereka merayakan keunikan.
Esai ini bukan perayaan diri saya sebagai penulis, melainkan perayaan perjumpaan. Puisi saya hanyalah medium, maknanya lahir dari suara Raissa dan ketekunan Yongky.
Dari mereka, saya belajar bahwa sastra dan teknologi bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk menegaskan keberadaan.
Artikel Terkait
Puisi : Episode 'Hujan, Desember 2020
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Puisi-puisi pilihan Soe Hok Gie: Suara sunyi yang tak pernah padam
Sinopsis buku antologi puisi 'Gemuruh Palung Hati' karya Ai Lundeng
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme