ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB
Ilustrasi redaktur
Ilustrasi redaktur

Baca Juga: Belajar dari Swiss dan Jepang, Ferry Irwandi soroti bahaya gelondongan kayu pascabanjir Sumatera

Pers yang sehat tidak berpihak pada kekuasaan, tapi juga tidak membenci negara. Ia berpihak pada kepentingan publik. Ia kritis tanpa harus sinis. Tegas tanpa kehilangan empati.

Di daerah, peran ini justru semakin krusial. Media menjadi mata dan telinga warga. Ia mencatat yang luput dari pusat.

Ia menyuarakan yang sering tak terdengar. Ia menjadi ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat, antara kebijakan dan realitas lapangan.

Ketika pers bekerja dengan integritas, demokrasi menjadi hidup. Ketika pers dibungkam, demokrasi hanya tinggal prosedur. Dan ketika pers abai, ruang publik akan diisi oleh teriakan paling keras, bukan argumen paling masuk akal.

Baca Juga: Kepolosan dua bocah di Tapanuli Tengah ceritakan rumah biru mereka hancur diterjang banjir

Pilar keempat demokrasi bukanlah bangunan megah. Ia rapuh, sering diserang, kadang dilemahkan.

Tapi justru karena itulah ia harus dijaga oleh jurnalis yang beretika, oleh pembaca yang kritis, dan oleh masyarakat yang sadar bahwa kebebasan pers bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan.

Demokrasi tidak hanya butuh pemilu.
Ia butuh cahaya. Dan pers adalah salah satu sumber cahaya itu, agar negeri ini, dalam skala apa pun, tak kembali gelap.

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X