Baca Juga: Belajar dari Swiss dan Jepang, Ferry Irwandi soroti bahaya gelondongan kayu pascabanjir Sumatera
Pers yang sehat tidak berpihak pada kekuasaan, tapi juga tidak membenci negara. Ia berpihak pada kepentingan publik. Ia kritis tanpa harus sinis. Tegas tanpa kehilangan empati.
Di daerah, peran ini justru semakin krusial. Media menjadi mata dan telinga warga. Ia mencatat yang luput dari pusat.
Ia menyuarakan yang sering tak terdengar. Ia menjadi ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat, antara kebijakan dan realitas lapangan.
Ketika pers bekerja dengan integritas, demokrasi menjadi hidup. Ketika pers dibungkam, demokrasi hanya tinggal prosedur. Dan ketika pers abai, ruang publik akan diisi oleh teriakan paling keras, bukan argumen paling masuk akal.
Baca Juga: Kepolosan dua bocah di Tapanuli Tengah ceritakan rumah biru mereka hancur diterjang banjir
Pilar keempat demokrasi bukanlah bangunan megah. Ia rapuh, sering diserang, kadang dilemahkan.
Tapi justru karena itulah ia harus dijaga oleh jurnalis yang beretika, oleh pembaca yang kritis, dan oleh masyarakat yang sadar bahwa kebebasan pers bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan.
Demokrasi tidak hanya butuh pemilu.
Ia butuh cahaya. Dan pers adalah salah satu sumber cahaya itu, agar negeri ini, dalam skala apa pun, tak kembali gelap.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
Artikel Terkait
ESAI: Buzzer atau influencer bukanlah pers: Sebuah analisis
Mengenal AJI: Organisasi jurnalis independen yang konsisten kawal kebebasan pers
Kebebasan pers di Indonesia semakin memburuk, AJI desak perlindungan yang lebih kuat
PWI Jabar minta Pemkab Indramayu kaji ulang pengusiran dari Graha Pers, soroti dugaan pembungkaman dan minimnya dialog
Pakai rompi oranye, Noel acungkan jempol dan kepalkan tangan di konferensi pers KPK
Biro Pers Istana dikabarkan cabut ID Card jurnalis, CEO Promedia: Jangan rusak citra Presiden!
Menata ulang ekonomi media: Seminar Nasional soroti ketimpangan platform digital vs industri pers