Di era digital, buzzer dan influencer memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik.
Mereka kerap dianggap sebagai sumber informasi, bahkan sering disamakan dengan pers.
Namun, dalam perspektif ilmu komunikasi dan jurnalistik, keduanya memiliki perbedaan mendasar.
Perbedaan buzzer, influencer, dan pers
Pers memiliki tanggung jawab untuk menyajikan berita yang faktual, berimbang, dan berdasarkan prinsip-prinsip jurnalistik.
Baca Juga: Kapolsek Pagaden gelar Jumat curhat, tampung aspirasi warga di Desa Kamarung
Dalam dunia pers, ada standar yang harus dipatuhi, seperti verifikasi informasi, keberimbangan, serta kode etik jurnalistik.
Sebaliknya, buzzer dan influencer lebih berorientasi pada kepentingan pribadi, kelompok, atau bahkan komersial.
Mereka tidak terikat oleh kode etik jurnalistik dan lebih cenderung menyebarkan opini yang sesuai dengan kepentingan pihak yang membayar mereka.
Dalam teori komunikasi massa, pers berfungsi sebagai pilar demokrasi yang menyediakan informasi objektif bagi masyarakat.
Sementara itu, buzzer dan influencer lebih sering bertindak sebagai alat promosi atau propaganda.
Mereka bisa saja menyebarkan informasi tanpa verifikasi yang ketat, sehingga berisiko menciptakan misinformasi.
Implikasi sosial dan politik
Artikel Terkait
Jadi pembicara BRI CoreLab di UIN Raden Fatah Palembang, CEO Promedia ungkap perjalanan 17 tahun kariernya jadi jurnalis!
CEO Promedia Agus Sulistriyono ungkap Hari Pers Nasional jadi momen penting menghargai dedikasi dan kerja keras para jurnalis di tanah air
Influencer otomotif tanah air soroti skandal Pertamax oplosan di SPBU Pertamina, ungkap 'hal buruk akan terjadi' pada kendaraan
Temu silaturahim dengan jurnalis Subang, Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah paparkan realisasi program Ansyithah Ramadan 1446 H
Viralnya konten rendang Willie Salim masih terus berlanjut, influencer lokal Palembang bongkar fakta dugaan settingan: Tidak ke toilet
Polres Subang ungkap kasus pengeroyokan jurnalis, IWOI kutuk keras dan apresiasi tindakan cepat polisi
ESAI: Menjadi jurnalis di zaman keterbukaan, antara panggilan nurani dan risiko nyata