Kita hidup di zaman ketika perempuan telah menemukan kekuatan-kekuatan baru. Mereka tidak lagi bergantung pada lembaga pernikahan untuk bertahan hidup.
Ada janda yang menjadi CEO, ada yang menjadi guru besar, ada pula yang memilih menjadi entrepreneur online dan menghidupi keluarganya dengan bangga.
Maka jika argumen klasik poligami adalah demi melindungi perempuan, kini justru praktik itu sering melukai mereka. Apa yang dulu merupakan strategi empati, kini menjadi arena eksploitasi.
Ali Syariati pernah menulis, “Ketika agama menjadi alat kekuasaan, maka ia kehilangan ruh revolusionernya.” Maka dalam konteks ini, poligami harus dibaca ulang, tidak sebagai kewajiban, tapi sebagai sejarah.
Baca Juga: Arya Saloka resmi gugat cerai Putri Anne, Pengadilan Agama bongkar alasan perceraian
Sebagai artefak yang menyimpan kenangan panjang tentang bagaimana umat Islam pernah menyikapi krisis dengan kepekaan.
Namun artefak ini, seperti halnya peninggalan sejarah lainnya, harus dibaca dengan semangat zaman. Bukan untuk disembah, tapi untuk direnungkan kembali, dalam terang akal dan hati yang jernih.
Namun, pertanyaan mendasarnya tetap menggema: untuk siapa sebenarnya poligami hari ini dilakukan?
Apakah ia masih berakar pada etika kasih sayang dan perlindungan, atau justru telah terjebak dalam ritualisasi kekuasaan laki-laki atas tubuh dan pilihan perempuan?
Baca Juga: Geram dihujat netizen, Lisa Mariana putuskan potong lambung dan pamer di sosial media
Jika syariat hadir untuk menghadirkan keadilan dan rahmat bagi semesta, bagaimana mungkin sebuah praktik yang diklaim syar’i justru berulang kali menjadi sumber luka yang membusuk dalam diam?
Apakah keadilan bisa dibayangkan hadir ketika seorang perempuan tak bisa menyuarakan perasaannya tanpa dituduh menolak ajaran Tuhan?
Ataukah kita memang sedang menghadapi bentuk baru dari kekerasan spiritual—yang berwajah religius, namun melukai secara eksistensial?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak berhenti pada teks, tetapi bergerak menuju ruang batin manusia.
Artikel Terkait
Ramai soal Pj Gubernur Jakarta yang bolehkan ASN poligami, Mendagri: Saya akan tanya
Pramono pastikan tidak izinkan ASN Jakarta poligami di eranya, begini tanggapan berbagai parpol
Pahalanya setara setahun berpuasa, ini 3 niat puasa 6 hari di bulan Syawal sesuai dengan kondisi saat akan memulai
Hadis dan sejarah salat Idul Fitri di lapangan yang umum dilakukan di Indonesia
Pemeran Walid akui soal tokohnya yang viral dalam serial bidaah, bongkar tentang adegan ‘menantang’ yang dilakukannya
Kata Walid soal serial bidaah yang viral di berbagai negara karena adegan yang berani
ESAI: Menggelitik tersendat: Catatan centil tentang tiga baris batavian haiku