ESAI: Poligami, kekerasan berwajah religius yang menyisakan luka

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 20 April 2025 | 21:34 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Selesai tutup konser di Tokyo, gitaris seringai Ricky Siahaan meninggal dunia secara mendadak: Kami kehilangan satu bagian terpenting

Kita hidup di zaman ketika perempuan telah menemukan kekuatan-kekuatan baru. Mereka tidak lagi bergantung pada lembaga pernikahan untuk bertahan hidup.

Ada janda yang menjadi CEO, ada yang menjadi guru besar, ada pula yang memilih menjadi entrepreneur online dan menghidupi keluarganya dengan bangga.

Maka jika argumen klasik poligami adalah demi melindungi perempuan, kini justru praktik itu sering melukai mereka. Apa yang dulu merupakan strategi empati, kini menjadi arena eksploitasi.

Ali Syariati pernah menulis, “Ketika agama menjadi alat kekuasaan, maka ia kehilangan ruh revolusionernya.” Maka dalam konteks ini, poligami harus dibaca ulang, tidak sebagai kewajiban, tapi sebagai sejarah.

Baca Juga: Arya Saloka resmi gugat cerai Putri Anne, Pengadilan Agama bongkar alasan perceraian

Sebagai artefak yang menyimpan kenangan panjang tentang bagaimana umat Islam pernah menyikapi krisis dengan kepekaan.

Namun artefak ini, seperti halnya peninggalan sejarah lainnya, harus dibaca dengan semangat zaman. Bukan untuk disembah, tapi untuk direnungkan kembali, dalam terang akal dan hati yang jernih.

Namun, pertanyaan mendasarnya tetap menggema: untuk siapa sebenarnya poligami hari ini dilakukan?

Apakah ia masih berakar pada etika kasih sayang dan perlindungan, atau justru telah terjebak dalam ritualisasi kekuasaan laki-laki atas tubuh dan pilihan perempuan?

Baca Juga: Geram dihujat netizen, Lisa Mariana putuskan potong lambung dan pamer di sosial media

Jika syariat hadir untuk menghadirkan keadilan dan rahmat bagi semesta, bagaimana mungkin sebuah praktik yang diklaim syar’i justru berulang kali menjadi sumber luka yang membusuk dalam diam?

Apakah keadilan bisa dibayangkan hadir ketika seorang perempuan tak bisa menyuarakan perasaannya tanpa dituduh menolak ajaran Tuhan?

Ataukah kita memang sedang menghadapi bentuk baru dari kekerasan spiritual—yang berwajah religius, namun melukai secara eksistensial?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak berhenti pada teks, tetapi bergerak menuju ruang batin manusia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X