Karena pada akhirnya, praktik keagamaan—termasuk poligami—adalah refleksi dari siapa kita, bagaimana kita memandang yang lain, dan apa yang kita anggap layak untuk diperjuangkan dalam kehidupan.
Maka, beranikah kita melihat poligami bukan sebagai dogma yang beku, melainkan sebagai cermin dari peradaban kita hari ini?
Jika sebuah hukum Tuhan dimaksudkan untuk kebaikan, namun praktiknya lebih sering melahirkan luka, bukankah kita wajib bertanya kembali: apakah ini betul-betul kehendak Tuhan, atau hanya kehendak laki-laki yang dibungkus ayat?
Poligami, dalam konteks sekarang, bukan sekadar isu hukum atau moral. Ia adalah pertemuan antara memori sejarah, krisis kontemporer, dan harapan masa depan.
Sebuah artefak yang tidak akan pernah selesai dimaknai, karena ia terus berbicara tentang cinta, keadilan, kuasa, dan luka manusia.
Mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya 'boleh atau tidak', dan mulai bertanya 'perlu atau tidak?', 'adil atau tidak?', dan yang lebih penting: 'masih manusiawi atau tidak?'
Karena ukuran tertinggi dari peradaban bukanlah seberapa banyak teks yang kita hafal, tapi seberapa jauh kasih sayang dan keadilan bisa kita hidupkan di tengah kenyataan yang rapuh ini.
Fileski Walidha Tanjung, penyair dan penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan prosa di berbagai media nasional
Artikel Terkait
Ramai soal Pj Gubernur Jakarta yang bolehkan ASN poligami, Mendagri: Saya akan tanya
Pramono pastikan tidak izinkan ASN Jakarta poligami di eranya, begini tanggapan berbagai parpol
Pahalanya setara setahun berpuasa, ini 3 niat puasa 6 hari di bulan Syawal sesuai dengan kondisi saat akan memulai
Hadis dan sejarah salat Idul Fitri di lapangan yang umum dilakukan di Indonesia
Pemeran Walid akui soal tokohnya yang viral dalam serial bidaah, bongkar tentang adegan ‘menantang’ yang dilakukannya
Kata Walid soal serial bidaah yang viral di berbagai negara karena adegan yang berani
ESAI: Menggelitik tersendat: Catatan centil tentang tiga baris batavian haiku