ESAI: Poligami, kekerasan berwajah religius yang menyisakan luka

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 20 April 2025 | 21:34 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Kisah mendiang Hotma Sitompul yang pernah jadi penyelamat rumah tangga artis Rizky Billar dan Lesti Kejora di tahun 2022

Karena pada akhirnya, praktik keagamaan—termasuk poligami—adalah refleksi dari siapa kita, bagaimana kita memandang yang lain, dan apa yang kita anggap layak untuk diperjuangkan dalam kehidupan.

Maka, beranikah kita melihat poligami bukan sebagai dogma yang beku, melainkan sebagai cermin dari peradaban kita hari ini?

Jika sebuah hukum Tuhan dimaksudkan untuk kebaikan, namun praktiknya lebih sering melahirkan luka, bukankah kita wajib bertanya kembali: apakah ini betul-betul kehendak Tuhan, atau hanya kehendak laki-laki yang dibungkus ayat?

Poligami, dalam konteks sekarang, bukan sekadar isu hukum atau moral. Ia adalah pertemuan antara memori sejarah, krisis kontemporer, dan harapan masa depan.

Baca Juga: Momen terakhir Hotma Sitompul foto bareng anak cucu, sempat cerita betapa dalam cintanya untuk keluarga

Sebuah artefak yang tidak akan pernah selesai dimaknai, karena ia terus berbicara tentang cinta, keadilan, kuasa, dan luka manusia.

Mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya 'boleh atau tidak', dan mulai bertanya 'perlu atau tidak?', 'adil atau tidak?', dan yang lebih penting: 'masih manusiawi atau tidak?'

Karena ukuran tertinggi dari peradaban bukanlah seberapa banyak teks yang kita hafal, tapi seberapa jauh kasih sayang dan keadilan bisa kita hidupkan di tengah kenyataan yang rapuh ini.

Fileski Walidha Tanjung, penyair dan penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan prosa di berbagai media nasional

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X