—mimpi si Pak Pung.
***
Baca Juga: Berhentikan sementara hakim yang jadi tersangka suap kasus korupsi CPO, MA kini ngaku prihatin
Saya menulis puisi ini dengan dua alat utama: perasaan yang kelewat kenyang dan bahasa ibu yang sesekali mabuk oplet. Keterlibatan bahasa Betawi di dalamnya bukan gimmick, tapi pilihan estetik dan etnopoetik.
Seperti seorang nenek yang masih percaya bahwa 'bikin sambel harus ulek, bukan blender,' saya ingin mempertahankan irisan rasa dari pengalaman urban yang kian hari makin susah dicicip lewat bahasa Indonesia formal.
Mari kita bicara teknis sedikit, supaya tidak terjebak dalam ke-gemes-an. Haiku pada dasarnya adalah puisi tiga baris dengan pola suku kata 5-7-5. Tapi, dalam versi Batavian Haiku, saya sengaja tidak rigid dengan skema suku kata Jepang itu.
Sebab kalau terlalu disiplin, nanti bukan Betawi—jadinya malah Kyoto. Yang saya kejar adalah suasana, kejutan, dan efek 'ngik-ngok' setelah pembacaan.
Baca Juga: Ada peluang damai untuk dua netizen yang diduga telah menghina Umi Pipik? Abidzar: Kita lihat nanti!
Bait pertama adalah tragedi domestik: waktu tengah hari (tengari bolong) menjadi momen tumbukan antar rumah, nimpe mangge tetangge—seseorang mencuri (nimpe) mangga dari pekarangan tetangga.
Lucunya, bukan dramatisasi kemiskinan atau nostalgia kekerabatan yang saya angkat, tapi momen nyungsep-nya sang pe(nimpe)nya. Ada niat baik, ada hasil rusak. Seperti cinta yang diungkap terlalu cepat.
Lalu bait kedua membawa kita ke sore yang 'menggerip'—sebuah kata yang sudah jarang digunakan bahkan oleh orang Betawi. Menggerip adalah saat waktu seperti ngos-ngosan menunggu magrib. Sebuah waktu yang basah dan pasrah.
Di sinilah si tokoh membangkek duren sendirian. Bukan romantis, malah jadi eksistensialis. Dan akhir baris kemelekeran—sebuah istilah Betawi untuk rasa begah atau perut penuh yang membuat tubuh separuh hidup.
Ya, terkadang begitu-lah cinta dan makan duren: enak tapi menyiksa.
Baris ketiga adalah penghabisan yang ganjil. Seseorang molor di pangkeng—rebahan di ranjang—sambil minum di gelas kecil. Frasa ini saya ambil dari momen khas bapak-bapak habis lelah kerja lalu ketiduran.
Artikel Terkait
Dikenal sebagai aktivis produktif dan pendiri Mapala UI, ini lima puisi Soe Hok Gie yang inspiratif bagi dunia pergerakan
Penyair Wiji Thukul dan tujuh puisi perlawanan terhadap ketidakadilan
7 Puisi Chairil Anwar, si 'Binatang Jalang' dan juga pelopor angkatan 45
10 Puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah satunya 'Yang fana adalah waktu'
10 puisi pilihan karya Remy Sylado, lihat di sini!
Penyair Wiji Thukul, aktivis perlawanan yang dihilangkan karena puisi
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia