ESAI: Menggelitik tersendat: Catatan centil tentang tiga baris batavian haiku

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 18 April 2025 | 11:54 WIB
Ikhsan Risfandi dikenal dengan nama pena Irzi, Penulis Puisi
Ikhsan Risfandi dikenal dengan nama pena Irzi, Penulis Puisi

Tapi kemudian, datanglah mimpi si Pak Pung—nama yang saya pinjam dari stereotip orang tua Betawi yang setengah bijak, setengah bangkrut.

Ia bermimpi, mungkin tentang kehidupan yang tak pernah benar-benar tuntas: utang, cucu, atau kenangan akan masa jaya sebagai pemain domino kampung atau sebenarnya mimpi minum di gelas kecil itu istilah betawi sebagai ungkapan bersetubuh ya jadi mimpi jorok ini ceritanya.

Baca Juga: Dibongkar Abidzar Sendiri, begini respon Umi Pipik terkait somasi untuk netizen yang dianggap telah menghinanya di medsos

***

Proses penulisan haiku ini sebenarnya lebih dekat ke ritual. Saya menulis dengan tubuh: menahan lapar, menonton bocah main petasan, dan mencatat suara.

Bukan suara Tuhan, tapi suara air tumpah dari genting, suara ojek lewat, atau suara perut saya sendiri.

Yang menarik dari penulisan ini adalah bagaimana saya mesti bernegosiasi antara humor dan kepedihan.

Ketika menulis 'nibla—nyungsep', saya tertawa. Tapi ada rasa getir juga: bahwa dalam hidup urban, kita sering jatuh tanpa sempat diteriaki.

Dan kata-kata seperti 'kemelekeran' atau 'Pak Pung' saya pilih bukan hanya karena lucu, tapi karena ia membawa jejak sosial yang sangat spesifik dan karib.

Baca Juga: Ingar di medsos soal dugaan Ridwan Kamil selingkuh, Deddy Corbuzier sebut banyak netizen mendadak jadi detektif

Puisi ini bukan hanya kerja kata, tapi kerja rasa yang dicampur mikro-narasi hidup sehari-hari. Ia tidak menggurui.

Tidak menjelaskan. Tapi menyodorkan sepotong irisan peradaban Jakarta dari sudut yang tidak di-endorse oleh Pemprov: perut begah, gelas kecil, pangkeng dan si Pak Pung.

Lalu apa artinya semua ini? Mungkin tak ada. Atau justru semua. Haiku ini adalah percobaan menjadikan bahasa lokal bukan sekadar pelengkap, tapi pusat semesta puisi.

Ia menolak tunduk pada standar pusat dan menawarkan semacam 'ketidakpatuhan puitik'. Ia juga merupakan bentuk afirmasi bahwa humor, ironi, dan bahasa ibu punya tempat sejajar dengan metafora muluk atau aforisme filosofis.

Baca Juga: Pengacara Abidzar ungkap tak menutup kemungkinan ada tambahan akun yang akan dilaporkan terkait dugaan menghina Umi Pipik: Ini pembelajaran

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB
X