ESAI: Lelaki Korea dalam bayang-bayang realitas sosial

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 14 April 2025 | 20:02 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Dalam 'Simulacra and Simulation', Jean Baudrillard menyatakan bahwa dalam masyarakat pascamodern, representasi bisa melampaui kenyataan dan bahkan menggantikannya.

Apa yang kita konsumsi sebagai 'realitas' tak lagi merujuk pada yang nyata, melainkan pada citra yang terus-menerus direproduksi, dipoles, dan dikomersialisasikan.

Di titik ini, lelaki Korea yang hadir dalam drama dan boyband bukan lagi manusia, melainkan citra hiperreal fantasi kolektif yang menuntut pemujaan tanpa syarat. Kita tidak sedang mencintai pria Korea, kita mencintai ide tentang pria Korea.

Indonesia, seperti banyak negara lain di Asia, kini tengah mengalami fenomena besar: demam Korea, atau yang lazim disebut Korean Wave (Hallyu).

Baca Juga: Kang Rey sebut petugas kebersihan sebagai pahlawan, janjikan kenaikan gaji hingga setara UMR

Namun, di balik gejala kultural ini, tersembunyi kegelisahan yang tak banyak disadari. Terutama ketika perempuan Indonesia mulai mengidealkan karakter pria Korea semata-mata dari tontonan layar kaca—sosok lelaki yang penuh kelembutan, perhatian tanpa batas, dan cinta yang selalu mengalah.

Citra ini membius, namun juga menyesatkan. Dalam terminologi Slavoj Žižek, ini adalah bentuk 'ideologi sebagai fiksi'—sebuah fiksi yang disadari sebagai tidak nyata, namun tetap dipercayai karena menawarkan kenyamanan psikologis.

Kita hidup dalam zaman di mana eksistensi manusia seringkali dinilai bukan dari laku hidupnya, melainkan dari seberapa 'layak tayang' ia dalam narasi digital.

Budaya visual, seperti yang dikritik Susan Sontag dalam On Photography, tidak lagi menangkap kenyataan, tetapi menciptakan kenyataan alternatif yang lebih bisa dijual dan dikonsumsi.

Baca Juga: Operasi Ketupat 2025 berjalan lancar, semangat kebersamaan Polres Subang diperkuat lewat halalbihalal

Pria Korea dalam drama romantis bukan sedang 'direpresentasikan', melainkan sedang 'diciptakan ulang' sebagai objek konsumsi budaya global. Ia adalah artefak budaya, bukan entitas manusiawi.

Di sinilah titik persoalan kita: ketika perempuan mencintai bukan manusia, tetapi ilusi estetik yang dikonstruksi untuk memuaskan harapan emosional pasar.

Sebuah studi dari Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga Korea Selatan (MOGEF) tahun 2023 mencatat bahwa hampir 34 persen perempuan di Korea pernah mengalami bentuk kekerasan dalam rumah tangga.

Kekerasan ini mencakup kontrol psikologis, ancaman verbal, dan kekerasan fisik. Namun ironi mencuat ketika negara yang dilabeli maju ini justru menyimpan wajah patriarki yang masih kental, seperti yang disinggung oleh sosiolog feminis Choi Hyeon.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB

ESAI: Subang, laboratorium perjuangan Marhaenisme

Rabu, 24 September 2025 | 23:59 WIB
X