Dalam 'Simulacra and Simulation', Jean Baudrillard menyatakan bahwa dalam masyarakat pascamodern, representasi bisa melampaui kenyataan dan bahkan menggantikannya.
Apa yang kita konsumsi sebagai 'realitas' tak lagi merujuk pada yang nyata, melainkan pada citra yang terus-menerus direproduksi, dipoles, dan dikomersialisasikan.
Di titik ini, lelaki Korea yang hadir dalam drama dan boyband bukan lagi manusia, melainkan citra hiperreal fantasi kolektif yang menuntut pemujaan tanpa syarat. Kita tidak sedang mencintai pria Korea, kita mencintai ide tentang pria Korea.
Indonesia, seperti banyak negara lain di Asia, kini tengah mengalami fenomena besar: demam Korea, atau yang lazim disebut Korean Wave (Hallyu).
Baca Juga: Kang Rey sebut petugas kebersihan sebagai pahlawan, janjikan kenaikan gaji hingga setara UMR
Namun, di balik gejala kultural ini, tersembunyi kegelisahan yang tak banyak disadari. Terutama ketika perempuan Indonesia mulai mengidealkan karakter pria Korea semata-mata dari tontonan layar kaca—sosok lelaki yang penuh kelembutan, perhatian tanpa batas, dan cinta yang selalu mengalah.
Citra ini membius, namun juga menyesatkan. Dalam terminologi Slavoj Žižek, ini adalah bentuk 'ideologi sebagai fiksi'—sebuah fiksi yang disadari sebagai tidak nyata, namun tetap dipercayai karena menawarkan kenyamanan psikologis.
Kita hidup dalam zaman di mana eksistensi manusia seringkali dinilai bukan dari laku hidupnya, melainkan dari seberapa 'layak tayang' ia dalam narasi digital.
Budaya visual, seperti yang dikritik Susan Sontag dalam On Photography, tidak lagi menangkap kenyataan, tetapi menciptakan kenyataan alternatif yang lebih bisa dijual dan dikonsumsi.
Pria Korea dalam drama romantis bukan sedang 'direpresentasikan', melainkan sedang 'diciptakan ulang' sebagai objek konsumsi budaya global. Ia adalah artefak budaya, bukan entitas manusiawi.
Di sinilah titik persoalan kita: ketika perempuan mencintai bukan manusia, tetapi ilusi estetik yang dikonstruksi untuk memuaskan harapan emosional pasar.
Sebuah studi dari Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga Korea Selatan (MOGEF) tahun 2023 mencatat bahwa hampir 34 persen perempuan di Korea pernah mengalami bentuk kekerasan dalam rumah tangga.
Kekerasan ini mencakup kontrol psikologis, ancaman verbal, dan kekerasan fisik. Namun ironi mencuat ketika negara yang dilabeli maju ini justru menyimpan wajah patriarki yang masih kental, seperti yang disinggung oleh sosiolog feminis Choi Hyeon.
Artikel Terkait
4 Hal yang bikin iShowSpeed ‘Ngebet’ ke Indonesia, salah satunya dapat baju Arhan saat di Korea Selatan
Ada 22 episode, drama Korea Gong Yoo dan Song Hye-kyo sudah mulai syuting, OTW tayang di Netflix
Robert Pattinson ke Korea untuk promo film Mickey 17, mendadak jadi bintang tamu Running Man
Diduga direkrut jadi Dirtek Timnas Indonesia, Shin Tae-yong beri jawaban sebelum pulang ke Korea Selatan
Salah satunya selalu merasa kenyang, ini gejala awal kanker perut yang merenggut nyawa artis veteran Korea Lee Joo-sil
Warga Korea Selatan rayakan pemakzulan Yoon Suk-yeol dengan makan Mi yang ditaburi daun bawang, ini makna tersembunyinya
ESAI: Jurnalis bukan musuh, tapi pilar demokrasi