ESAI: Ujung Ramadan, antara kesedihan dan kemunafikan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 1 April 2025 | 20:26 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: 3 Kue jadul yang bikin nostalgia di momentum lebaran Idul Fitri 2025, salah satunya kembang goyang

Jika hidup hanya dipenuhi dengan larangan dan ketakutan, di manakah ruang bagi kebijaksanaan?

Fyodor Dostoyevsky dalam The Brothers Karamazov menuliskan bahwa manusia sering kali lebih memilih perbudakan yang nyaman daripada kebebasan yang menakutkan.

Maka, pertanyaannya adalah: apakah puasa kita adalah upaya menuju kebebasan, atau justru kita menikmatinya sebagai bentuk keterikatan yang menenangkan?

Ramadan yang berlalu seharusnya tidak hanya menyisakan kesedihan yang dipertontonkan, tetapi juga meninggalkan pemahaman baru yang lebih luas tentang diri, tentang ibadah, dan tentang makna keberagamaan itu sendiri.

Baca Juga: 3 Ide kegiatan seru dan berkesan selama lebaran Idul Fitri 2025, bisa dilakukan bersama keluarga maupun pasangan

Namun, apakah kita siap untuk itu? Ataukah kita lebih memilih tetap melolong di ujung Ramadan, sekadar karena itulah yang seharusnya dilakukan?

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih besar bukanlah tentang apakah kita benar-benar bersedih atas kepergian Ramadan atau hanya berpura-pura.

Bukan pula tentang apakah kita benar-benar mencintai puasa atau hanya menjalaninya sebagai kewajiban yang menekan.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita memahami makna dari segala ritual ini—bukan sebagai beban yang harus dipikul atau pertunjukan yang harus dipertontonkan, tetapi sebagai kesempatan untuk menghayati hidup dengan cara yang lebih jujur dan lebih luas.

Baca Juga: Makin dipercaya masyarakat, Ash-Shiddiq Tours berangkatkan 240 jamaah umroh pada Miladnya yang ke-6

Jika hidup, sebagaimana dikatakan Prof. Djoko Saryono, adalah soal meluaskan hati dan melapangkan pandangan, maka Ramadan seharusnya tidak sekadar menjadi bulan pembatasan, tetapi juga momentum untuk melonggarkan sekat-sekat pemikiran kita.

Jika kita hanya memahami puasa sebagai pengendalian diri yang mekanis, tanpa benar-benar menyoal kembali tujuan dari segala pengorbanan itu, bukankah kita justru menjebak diri dalam kepatuhan tanpa pemahaman?

Mungkin, justru di sinilah ironi terbesar kita: kita takut untuk jujur pada diri sendiri. Takut mengakui bahwa setelah sebulan penuh menahan lapar, ada rasa lega ketika akhirnya bisa makan kapan saja tanpa aturan waktu.

Takut mengakui bahwa mungkin, puasa lebih sering menjadi ajang penderitaan yang dirayakan daripada pengalaman spiritual yang membebaskan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X