ESAI: Rekrutmen dan realitas: Ironi pasar kerja di Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 20 Maret 2025 | 07:32 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Di tepi antrian panjang, seorang bapak tua berdiri tegak. Wajahnya penuh harap, seakan bertaruh dengan nasib yang telah lama tak berpihak. Namun, harapan itu segera dipatahkan. “Hanya untuk usia 20-30 tahun,” ujar petugas dengan nada final, menutup kemungkinan apa pun untuk negosiasi.

Di belakangnya, seorang ibu dengan anaknya mencoba masuk, hanya untuk dihentikan dengan alasan yang lain: “Kami hanya menerima yang belum menikah.”

Sementara itu, seorang pria dengan relasi khusus langsung diizinkan melewati barisan tanpa hambatan.

Apa yang tergambar dalam adegan ini bukan sekadar peristiwa sepele. Ini adalah miniatur dari kontradiksi sosial yang mengakar dalam struktur ketenagakerjaan di Indonesia.

Baca Juga: FKUB Subang: Penista agama berlindung dibalik aliran kepercayaan

Kita menyaksikan tiga karakter utama dalam drama absurd pasar kerja: pekerja senior yang tersisih karena usia, seorang ibu yang ditolak atas status pernikahannya, dan seorang yang berhasil masuk berkat nepotisme.

Jika kita merunut lebih dalam, yang ditampilkan di sini bukan sekadar ketidakadilan administratif, tetapi gejala sosial yang lebih kompleks: meritokrasi yang semu, diskriminasi sistematis, dan ekonomi yang abai terhadap realitas manusiawi.

Kisah bapak yang ditolak karena usianya membuka diskusi panjang tentang bagaimana pasar kerja modern memandang tenaga kerja berusia lanjut.

Dalam pemikiran kapitalisme kontemporer, individu yang lebih muda dianggap lebih produktif, lebih dinamis, lebih mudah diarahkan—suatu asumsi yang secara empiris belum tentu benar.

Baca Juga: Sempat undur jadwal, MenPAN RB pastikan pengangkatan CASN 2024 akan dipercepat tahun ini

Pierre Bourdieu dalam konsep habitus-nya menyoroti bagaimana struktur sosial membentuk pola pikir kita hingga kita tanpa sadar menerima ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar.

Kita telah terbiasa dengan gagasan bahwa tenaga kerja muda lebih unggul, padahal pengalaman dan keterampilan yang dimiliki generasi tua sering kali lebih berharga dibandingkan sekadar 'energi muda.'

Di Jepang, sistem ketenagakerjaan masih memberikan tempat bagi tenaga kerja senior melalui konsep lifetime employment yang menjamin stabilitas karier.

Sementara itu, di Indonesia, kita melihat fenomena sebaliknya: seorang pria berusia 50 tahun justru dianggap usang dan tidak relevan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X