Baca Juga: Malam takbiran, Polres Subang kerahkan 250 personel, imbau masyarakat agar perhatikan 5 hal ini
Takut mengakui bahwa kesedihan yang kita ekspresikan di media sosial hanyalah bagian dari konstruksi sosial yang ingin kita pertahankan.
Tapi, apakah salah untuk merasa lega? Apakah salah jika seseorang jujur mengatakan bahwa ia menikmati kembali kebebasan makan setelah Ramadan?
Atau, apakah kita telah begitu terkungkung dalam definisi kesalehan yang rigid, sehingga kejujuran justru dianggap sebagai dosa yang lebih besar daripada kemunafikan?
Maka, setelah semua pertanyaan ini, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apa yang benar-benar kita cari dalam Ramadan? Kesucian yang otentik atau sekadar kesalehan yang tampak?
Apakah kita menjalani puasa untuk menemukan kebebasan, atau justru merasa lebih aman dalam keterikatan?
Dan ketika Ramadan telah berlalu, apakah kita benar-benar kehilangan sesuatu—atau justru kembali pada diri kita yang sebenarnya?***
Artikel Terkait
ESAI: Jurus melenyapkan jejak Chairil Anwar
ESAI: Rekrutmen dan realitas: Ironi pasar kerja di Indonesia
Ramadan berbagi, Komunitas Guru Penggerak Kabupaten Subang santuni 60 anak yatim di Masjid Agung Al Musabaqoh
Promedia salurkan 300 paket sembako ke warga Kota Bandung, berbagi kebahagiaan di Ramadan 2025
Temu silaturahim dengan jurnalis Subang, Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah paparkan realisasi program Ansyithah Ramadan 1446 H
Usung tema 'Ramadan Berdampak' program BAWA salurkan ke 4.673 penerima manfaat di 4 provinsi
Promedia Teknologi Indonesia dan Ayo Media Network gelar acara buka bersama di Bandung: Momen jalin silaturahmi di Ramadan 2025