ESAI: Ujung Ramadan, antara kesedihan dan kemunafikan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 1 April 2025 | 20:26 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Malam takbiran, Polres Subang kerahkan 250 personel, imbau masyarakat agar perhatikan 5 hal ini

Takut mengakui bahwa kesedihan yang kita ekspresikan di media sosial hanyalah bagian dari konstruksi sosial yang ingin kita pertahankan.

Tapi, apakah salah untuk merasa lega? Apakah salah jika seseorang jujur mengatakan bahwa ia menikmati kembali kebebasan makan setelah Ramadan?

Atau, apakah kita telah begitu terkungkung dalam definisi kesalehan yang rigid, sehingga kejujuran justru dianggap sebagai dosa yang lebih besar daripada kemunafikan?

Maka, setelah semua pertanyaan ini, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apa yang benar-benar kita cari dalam Ramadan? Kesucian yang otentik atau sekadar kesalehan yang tampak?

Baca Juga: Tak terima ditegur saat mabuk, pelaku pengeroyokan di Pasar Pujasera diciduk Sat Reskrim Polres Subang: Terancam 7 tahun penjara

Apakah kita menjalani puasa untuk menemukan kebebasan, atau justru merasa lebih aman dalam keterikatan?

Dan ketika Ramadan telah berlalu, apakah kita benar-benar kehilangan sesuatu—atau justru kembali pada diri kita yang sebenarnya?***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X