Indonesia adalah salah satu negara yang rawan bencana. Baik bencana alam maupun bencana nonalam.
Kondisi geografis Indonesia yang banyak memiliki gunung berapi, berada di garis katulistiwa, kontur daerah pegunungan, perbukitan, dan lautan menjadi potensi terjadinya bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi, tsunami, longsor, dan pergeseran tanah.
Sedangkan bencana nonalam lebih banyak disebabkan oleh tangan-tangan jahat manusia. Penggundulan hutan, peralihan fungsi lahan, kebiasaan membuang sampah sembarangan, dan limbah pabrik menjadi penyebabnya.
Banjir dan longsor, selain disebabkan faktor alam seperti curah hujan yang tinggi, juga bisa disebabkan oleh perilaku manusia seperti membuang sampah sembarangan dan menggunduli hutan secara tidak terkontrol atau tidak disertai dengan reboisasi.
Baca Juga: Asep Sucipto, terpilih jadi Ketua Pengda INI Kabupaten Subang periode 2023-2026
Sebagai negara yang rawan bencana, Indonesia mendirikan lembaga yang khusus mencegah dan menangani bencana baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Beberapa kementerian terkait pun menganggarkan dana untuk menangani bencana.
Dalam konteks pendidikan, dibentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan kurikulum pendidikan siaga bencana. Komunitas dan relawan bencana pun muncul sebagai bentuk aksi dan kepedulian terhadap bencana.
Tanggal 26 April diperingati sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana. Hal tersebut tentunya baik untuk mengingatkan semua pihak agar waspada, siaga, dan siap jika suatu saat terjadi bencana.
Hal ini tentunya tidak lepas dari edukasi pencegahan bencana. Bukan hanya di level satuan pendidikan, tetapi juga di level keluarga dan masyarakat, karena semua orang harus tahu dan paham cara menghadapi bencana.
Baca Juga: Jaga kondusifitas jelang Pilkada 2024, FKUB Subang akan gelar dialog moderasi beragama
Berbagai program dan kegiatan yang dilakukan oleh berbagai pihak terkait untuk mencegah dan menangani bencana tentunya bagus dan patut didukung oleh semua pihak.
Berbagai pihak terkait perlu berkolaborasi dan bersinergi dalam menyusun rencana dan melaksanakan aksi pencegahan bencana.
Pada tulisan ini saya ingin menyoroti hal yang mudah dan sederhana tapi bermakna dalam mencegah terjadinya bencana, khususnya bencana nonalam, yaitu pembiasaan membuang sampah pada tempatnya.
Pembiasaan membuang sampah pada tempatnya terkesan seperti hal yang mudah, tetapi faktanya masih sulit dilakukan.
Artikel Terkait
ESAI : Rendahnya minat baca pada anak
ESAI : Penerapan pendidikan karakter bagi pembentukan sikap siswa
ESAI : Guru mengalami tingkat stres yang tinggi, apa solusinya?
ESAI : Mengapa adab lebih utama ketimbang ilmu?
ESAI : Guru penggerak, bergerak, menggerakkan, berdampak dan menginspirasi
ESAI : Peran guru dalam memelihara pengetahuan global di era artificial intelligence
ESAI : Acara pelepasan lulusan yang bermakna