ESAI : Guru penggerak, bergerak, menggerakkan, berdampak dan menginspirasi

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 4 Desember 2023 | 10:39 WIB
Idris Apandi, Anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Barat 2019-2024
Idris Apandi, Anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Barat 2019-2024

Kebijakan Guru Penggerak (GP) yang digulirkan oleh Kemendikbudristek sejak tahun 2020 merupakan sebuah terobosan yang dilakukan oleh Kemendikbudristek dalam peningkatan mutu atau profesionalisme guru. 

Melalui program ini, dicari guru-guru yang memiliki keinginan kuat untuk belajar, menyukai tantangan, dan mau keluar dari zona nyaman. 

Oleh karena itu, seleksinya pun cukup panjang dan ketat, mulai dari seleksi administratif, penilaian essai, penilaian simulasi mengajar, dan wawancara. 

Saat seorang guru dinyatakan lolos menjadi calon guru penggerak, maka dia harus siap menyediakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk mengikuti pendidikan yang cukup lama. 

Baca Juga: Pilkades serentak, Polres Subang terjunkan 723 personil, Kompol Iwan Setiawan : 9 Desa yang perlu antisipasi khusus

Ada pepatah yang mengatakan bahwa 'Kalau guru ingin terus mengajar, maka dia harus terus belajar.' Program Guru Penggerak adalah jalan untuk mewujudkan hal tersebut. 

Mengapa? Karena tantangan yang dihadapi oleh guru sebagai ujung tombak pembelajaran semakin meningkat dan semakin kompleks. 

Saat ini, guru dihadapkan pada tugas berat untuk meningkatkan mutu literasi dan numerasi peserta didik, membangun karakter peserta didik di tengah krisis karakter yang sudah sangat serius dna mengkhawatirkan. 

Kasus kekerasan dan perundungan (bullying) yang terjadi baik di lingkungan satuan pendidikan maupun di luar satuan pendidikan tidak akan lepas dari mengaitkan peran guru dalam membina peserta didik.

Baca Juga: ESAI : Mengapa adab lebih utama ketimbang ilmu?

Guru Penggerak adalah guru yang diharapkan bisa menghadirkan fisik dan hatinya dalam proses pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. 

Guru yang mendidik disertai hati dan mengajar disertai rasa, guru yang berdedikasi, bernilai, dan mendapatkan tempat di hati peserta didiknya. 

Mengapa? Karena berbagai upaya peningkatan mutu guru, termasuk program guru penggerak, muaranya adalah untuk murid, murid, dan murid sehingga kesejahteraan murid (student wellbeing) sebagaimana yang dicita-citakan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara bisa terwujud.

Pada beberapa angkatan Pendidikan Calon Guru Penggerak (CGP) digulirkan, waktunya selama 9 bulan, tetapi kemudian diubah menjadi 6 bulan. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X