Kebijakan Guru Penggerak (GP) yang digulirkan oleh Kemendikbudristek sejak tahun 2020 merupakan sebuah terobosan yang dilakukan oleh Kemendikbudristek dalam peningkatan mutu atau profesionalisme guru.
Melalui program ini, dicari guru-guru yang memiliki keinginan kuat untuk belajar, menyukai tantangan, dan mau keluar dari zona nyaman.
Oleh karena itu, seleksinya pun cukup panjang dan ketat, mulai dari seleksi administratif, penilaian essai, penilaian simulasi mengajar, dan wawancara.
Saat seorang guru dinyatakan lolos menjadi calon guru penggerak, maka dia harus siap menyediakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk mengikuti pendidikan yang cukup lama.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa 'Kalau guru ingin terus mengajar, maka dia harus terus belajar.' Program Guru Penggerak adalah jalan untuk mewujudkan hal tersebut.
Mengapa? Karena tantangan yang dihadapi oleh guru sebagai ujung tombak pembelajaran semakin meningkat dan semakin kompleks.
Saat ini, guru dihadapkan pada tugas berat untuk meningkatkan mutu literasi dan numerasi peserta didik, membangun karakter peserta didik di tengah krisis karakter yang sudah sangat serius dna mengkhawatirkan.
Kasus kekerasan dan perundungan (bullying) yang terjadi baik di lingkungan satuan pendidikan maupun di luar satuan pendidikan tidak akan lepas dari mengaitkan peran guru dalam membina peserta didik.
Baca Juga: ESAI : Mengapa adab lebih utama ketimbang ilmu?
Guru Penggerak adalah guru yang diharapkan bisa menghadirkan fisik dan hatinya dalam proses pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik.
Guru yang mendidik disertai hati dan mengajar disertai rasa, guru yang berdedikasi, bernilai, dan mendapatkan tempat di hati peserta didiknya.
Mengapa? Karena berbagai upaya peningkatan mutu guru, termasuk program guru penggerak, muaranya adalah untuk murid, murid, dan murid sehingga kesejahteraan murid (student wellbeing) sebagaimana yang dicita-citakan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara bisa terwujud.
Pada beberapa angkatan Pendidikan Calon Guru Penggerak (CGP) digulirkan, waktunya selama 9 bulan, tetapi kemudian diubah menjadi 6 bulan.
Artikel Terkait
ESAI : Stop bullying! demi masa depan anak bangsa yang lebih cerah
ESAI : Guru dan tantangan zaman, adab murid terhadap guru semakin terlupakan
ESAI : Rendahnya minat baca pada anak
ESAI : Moderasi beragama
ESAI : Penerapan pendidikan karakter bagi pembentukan sikap siswa
ESAI : Guru mengalami tingkat stres yang tinggi, apa solusinya?
ESAI : Mengapa adab lebih utama ketimbang ilmu?