Gangguan kecemasan sosial diperkirakan terjadi sekitar 0,5% - 2,0% di seluruh dunia. Secara umum, ditemukan lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki, dengan rasio 2:1.
Gejala gangguan kecemasan sosial biasanya dimulai pada masa kanak-kanak atau remaja. Rata-rata onsetnya dimulai pada usia 8 hingga 15 tahun. Masa remaja merupakan masa dimana manusia mengalami gejolak emosi, pikiran, dan perasaan yang sangat kuat.
Kecemasan ini juga dialami oleh remaja, karena pada masa remaja dapat dikatakan merupakan usia ini masih belum stabil untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga.
Selain itu, keadaan emosi remaja akan mudah terganggu, misalnya ketika mengalami rasa cemas dan takut yang berlebihan.
Baca Juga: Firli Bahuri diberhentikan jadi Ketua KPK, seluruh akses di KPK telah diputus
Sedangkan diluar sana, banyak sekali remaja yang menderita penyakit mental namun tidak terbuka terhadap keluarganya. Karena dengan alasan yang berbeda-beda.
Namun, kebanyakan dengan alasan trauma karena ketika mereka bercerita ke keluarganya tidak pernah didengarkan.
Sedangkan, di dalam keluarga pasti mempunyai fungsi ke keluargaan. Dengan fungsi keluarga yang mengarah pada keterikatan, fleksibilitas, dan komunikasi yang baik.
Selain itu, terselenggarakannya fungsi keluarga secara optimal membentuk ketahanan keluarga yang mampu beradaptasi terhadap segala macam permasalahan dan perubahan baik di dalam maupun di luar keluarga.
Baca Juga: Nawawi Pomolango ditunjuk Presiden Jokowi jadi Ketua KPK gantikan Firli Bahuri
Fungsi yang pertama dan terpentingnya adalah kohesi. Kohesi adalah kedekatan emosional yang ditunjukkan setiap anggota keluarga melalui kepercayaan, kejujuran dan menghabiskan waktu bersama.
Dengan kohesi, menawarkan peluang kesetaraan dalam berbicara, yaitu memberikan kesempatan untuk berdiskusi, mendengarkan, dan menyelesaikan konflik bersama, bahkan mengajarkan anak untuk berkomunikasi dan menjadi pendengar yang baik.
Selain itu, anggota keluarga yang mengalami penyakit mental dapat terbuka dan jujur tentang perasaan dan pikirannya tanpa rasa takut atau cemas dalam mengungkapkannya.
Di sisi lain, keberfungsian keluarga bukan hanya soal kedekatan emosional masing-masing anggota keluarga. Namun fleksibilitas juga merupakan fungsi keluarga yang terlihat dalam saling membantu mengatasi permasalahan.
Artikel Terkait
ESAI : Urgensi moderasi beragama dalam pendidikan Islam bagi generasi milenial
ESAI : Setelah lulus guru penggerak, kok jadi sombong?
ESAI : Pencegahan kekerasan di satuan pendidikan berbasis pancasila dan kearifan lokal di Provinsi Jawa Barat
ESAI : Spirit Sumpah Pemuda dan persiapan pemilu serentak 2024
ESAI : Mengenang tragedi semanggi 1998, perjuangan demokrasi dan darah para demonstran
ESAI : Dampak fenomena childfree di Indonesia
ESAI : Membangun karakter peserta didik melalui keteladanan guru