ESAI : Tingkat keterbukaan dengan gangguan kecemasan di lingkungan keluarga

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 27 November 2023 | 13:19 WIB
Nabila Ummu Solihat, Mahasiswi Riyadhul Jannah Subang
Nabila Ummu Solihat, Mahasiswi Riyadhul Jannah Subang

Gangguan kecemasan sosial diperkirakan terjadi sekitar 0,5% - 2,0% di seluruh dunia. Secara umum, ditemukan lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki, dengan rasio 2:1.

Gejala gangguan kecemasan sosial biasanya dimulai pada masa kanak-kanak atau remaja. Rata-rata onsetnya dimulai pada usia 8 hingga 15 tahun. Masa remaja merupakan masa dimana manusia mengalami gejolak emosi, pikiran, dan perasaan yang sangat kuat.

Kecemasan ini juga dialami oleh remaja, karena pada masa remaja dapat dikatakan merupakan usia ini masih belum stabil untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga.

Selain itu, keadaan emosi remaja akan mudah terganggu, misalnya ketika mengalami rasa cemas dan takut yang berlebihan.

Baca Juga: Firli Bahuri diberhentikan jadi Ketua KPK, seluruh akses di KPK telah diputus

Sedangkan diluar sana, banyak sekali remaja yang menderita penyakit mental namun tidak terbuka terhadap keluarganya. Karena dengan alasan yang berbeda-beda.

Namun, kebanyakan dengan alasan trauma karena ketika mereka bercerita ke keluarganya tidak pernah didengarkan.

Sedangkan, di dalam keluarga pasti mempunyai fungsi ke keluargaan. Dengan fungsi keluarga yang mengarah pada keterikatan, fleksibilitas, dan komunikasi yang baik.

Selain itu, terselenggarakannya fungsi keluarga secara optimal membentuk ketahanan keluarga yang mampu beradaptasi terhadap segala macam permasalahan dan perubahan baik di dalam maupun di luar keluarga.

Baca Juga: Nawawi Pomolango ditunjuk Presiden Jokowi jadi Ketua KPK gantikan Firli Bahuri

Fungsi yang pertama dan terpentingnya adalah kohesi. Kohesi adalah kedekatan emosional yang ditunjukkan setiap anggota keluarga melalui kepercayaan, kejujuran dan menghabiskan waktu bersama.

Dengan kohesi, menawarkan peluang kesetaraan dalam berbicara, yaitu memberikan kesempatan untuk berdiskusi, mendengarkan, dan menyelesaikan konflik bersama, bahkan mengajarkan anak untuk berkomunikasi dan menjadi pendengar yang baik.

Selain itu, anggota keluarga yang mengalami penyakit mental dapat terbuka dan jujur tentang perasaan dan pikirannya tanpa rasa takut atau cemas dalam mengungkapkannya.

Di sisi lain, keberfungsian keluarga bukan hanya soal kedekatan emosional masing-masing anggota keluarga. Namun fleksibilitas juga merupakan fungsi keluarga yang terlihat dalam saling membantu mengatasi permasalahan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X