Sejak James Watt menemukan mesin uap pada pertengahan Abad 19 energi fosil digunakan secara besar-besaran oleh umat manusia, baik sebagai penggerak mesin-mesin pabrik, alat transportasi, penerangan, tenaga listrik, dan lainnya.
Kuda yang berabad-abad melayani kebutuhan transportasi manusia segera pensiun setelah Ford dengan sistem produksi ban berjalan memproduksi kendaraan bermesin dalam jumlah yang masif, diikuti oleh produser-produser mobil lainnya, termasuk Daimler produksi Jerman yang sejak awal menjadi pesaing dalam pengembangannya.
Bukan hanya moda transportasi yang berubah total. Pabrik-pabrik yang semula menggunakan tenaga manusia atau hewan diganti dengan munculnya penemuan mesin-mesin baru yang jauh lebih cepat dalam memproduksi barang dibandingkan waktu sebelumnya.
Skala produksi menjadi lebih massif dan mengubah kebiasaan manusia dalam banyak hal.
Tenaga manusia yang serba manual dengan teknologi ala kadarnya lambat laun terkikis. Alat tenun tradisional lambat laun tersingkir masuk senthong sejarah.
Begitu juga dengan alat cetak manual, seperti mesin stensilan yang masih bertahan hingga dekade 1980-an.
Baca Juga: CERPEN: Takbir Padang Karbala
Sedangkan mesin modern terus berinovasi secara digital yang membuat hancurnya pusat-pusat produksi lama, dan terakhir kali dengan perkembangan teknologi informasi yang canggih membuat sejumlah percetakan modern pun gulung tikar.
Setelah majalah legendaris News Week tidak lagi terbit pada awal 2000-an kini sebagian besar media cetak pun tamat riwayatnya.
Namun ketika mesin berbasis energi fosil berkembang secara massif di muka bumi dunia dikejutkan oleh perubahan iklim yang ekstrim.
Isu lingkungan yang kadang ditunggangi oleh kepentingan dagang negara-negara kapitalis lama lambat laun menjadi perbincangan dunia.
Baca Juga: Viral dua driver ojol bantu ibu dan anak di flyover, warganet terharu: Dunia masih punya orang baik
Dengan kata lain , langit yang semula cerah di Abad Kuda Gigit Besi mendadak muram tersiram limbah pabrik dan transportasi.