esai

ESAI: Dunia telah berganti rupa entah untuk kemenangan siapa

Rabu, 9 Juli 2025 | 06:15 WIB
Marlin Dinamikanto, pemerhati sejarah dan kebudayaan kontemporer yang berlatar belakang aktivis gerakan, antara lain pimpinan redaksi Kabar dari Pijar (1995 s.d 1999)

Sejak James Watt menemukan mesin uap pada pertengahan Abad 19 energi fosil digunakan secara besar-besaran oleh umat manusia, baik sebagai penggerak mesin-mesin pabrik, alat transportasi, penerangan, tenaga listrik, dan lainnya.

Kuda yang berabad-abad melayani kebutuhan transportasi manusia segera pensiun setelah Ford dengan sistem produksi ban berjalan memproduksi kendaraan bermesin dalam jumlah yang masif, diikuti oleh produser-produser mobil lainnya, termasuk Daimler produksi Jerman yang sejak awal menjadi pesaing dalam pengembangannya.

Baca Juga: Pocil Subang curi hati Presiden, diganjar penghargaan nasional: SDN Kelapa Kembar dan Disdik janji lanjutkan pembinaan

Bukan hanya moda transportasi yang berubah total. Pabrik-pabrik yang semula menggunakan tenaga manusia atau hewan diganti dengan munculnya penemuan mesin-mesin baru yang jauh lebih cepat dalam memproduksi barang dibandingkan waktu sebelumnya.

Skala produksi menjadi lebih massif dan mengubah kebiasaan manusia dalam banyak hal.

Tenaga manusia yang serba manual dengan teknologi ala kadarnya lambat laun terkikis. Alat tenun tradisional lambat laun tersingkir masuk senthong sejarah.

Begitu juga dengan alat cetak manual, seperti mesin stensilan yang masih bertahan hingga dekade 1980-an.

Baca Juga: CERPEN: Takbir Padang Karbala

Sedangkan mesin modern terus berinovasi secara digital yang membuat hancurnya pusat-pusat produksi lama, dan terakhir kali dengan perkembangan teknologi informasi yang canggih membuat sejumlah percetakan modern pun gulung tikar.

Setelah majalah legendaris News Week tidak lagi terbit pada awal 2000-an kini sebagian besar media cetak pun tamat riwayatnya.

Namun ketika mesin berbasis energi fosil berkembang secara massif di muka bumi dunia dikejutkan oleh perubahan iklim yang ekstrim.

Isu lingkungan yang kadang ditunggangi oleh kepentingan dagang negara-negara kapitalis lama lambat laun menjadi perbincangan dunia.

Baca Juga: Viral dua driver ojol bantu ibu dan anak di flyover, warganet terharu: Dunia masih punya orang baik

Dengan kata lain , langit yang semula cerah di Abad Kuda Gigit Besi mendadak muram tersiram limbah pabrik dan transportasi.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB