esai

ESAI: Mewaris api, bukan abu sejarah

Sabtu, 17 Mei 2025 | 18:28 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis

Baca Juga: ESAI: Merawat keberagaman budaya

Kita hidup di zaman ketika istilah 'aktivis' menjadi label populer. Tapi seperti kata Tan Malaka, “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.”

Seorang aktivis bukan yang ramai di permukaan, tapi yang tahan diuji oleh waktu, konflik, dan pilihan-pilihan etis.

Aktivis yang sesungguhnya adalah mereka yang bekerja untuk publik, bukan untuk kelompok, apalagi diri sendiri.

Mereka yang menyalakan obor di tengah gelapnya lorong desa, yang menulis ketika orang lain diam, dan yang terus belajar ketika yang lain sibuk mencari panggung.

Baca Juga: Politik sebagai moralitas, bukan sekadar kekuasaan

Tak sedikit yang lupa bahwa membangun bangsa tidak selalu dari ibu kota. Daerah-daerah seperti Subang adalah ujung tombak peradaban.

Jika anak-anak mudanya hanya mengejar sukses ke luar, siapa yang akan membangun di dalam? Jika mereka hanya menanti perubahan dari Jakarta, kapan Subang akan punya wajah sendiri?

Menjadi manusia bernilai berarti hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Berani salah untuk kemudian belajar, berani gagal untuk kemudian bangkit, dan berani berbeda demi kebenaran.

Seperti api yang tak pernah bertanya apakah ia dibutuhkan—ia cukup menyala, menerangi, dan menghangatkan.

Baca Juga: Tom Lembong di sidang korupsi gula: KUHP tak bisa hukum orang kalau aturannya tak ada

Maka mari, kita warisi api itu. Bukan abunya. Bukan kemegahan masa lalu yang membuat kita berpuas diri, tapi semangatnya, yang tak padam oleh zaman.

Kita hidup hari ini agar esok tak gelap. Dan sejarah akan mencatat bukan seberapa banyak kita bicara, tapi seberapa besar kita menyalakan terang.

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB