Politik sebagai moralitas, bukan sekadar kekuasaan

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 17 Mei 2025 | 09:16 WIB
H. Agus Salim, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Sutan Sjahrir (kedua dari kanan) dan Charles Tambu saat mewakili delegasi Indonesia di rapat DK-PBB, 14 Agustus 1947  (Instagram.com/@indonesian.historical)
H. Agus Salim, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Sutan Sjahrir (kedua dari kanan) dan Charles Tambu saat mewakili delegasi Indonesia di rapat DK-PBB, 14 Agustus 1947 (Instagram.com/@indonesian.historical)

 

GENMILENIAL.ID - Di tengah kebisingan politik hari ini, nama Sutan Syahrir kadang terdengar seperti bisikan dari masa lampau.

Namun justru dalam keteduhan itulah, kita bisa menemukan kembali makna dari politik yang sejati yakni politik sebagai ekspresi dari nilai-nilai moral dan kemanusiaan.

Bagi Syahrir, politik bukanlah arena perebutan kekuasaan semata. Ia menulis dalam Perjuangan Kita: "Kita bukan penghasut, bukan pengobar massa yang mabuk, tapi pendidik rakyat, pembina jiwa baru yang merdeka.”

Baca Juga: Tom Lembong di sidang korupsi gula: KUHP tak bisa hukum orang kalau aturannya tak ada

Baginya, politik harus menjadi jalan pendidikan, bukan jalan pembodohan, jalan penguatan karakter, bukan sekadar mobilisasi kemarahan.

Dalam pusaran revolusi yang penuh gejolak, Syahrir memilih jalan yang sepi: jalan diplomasi, jalan berpikir jernih, jalan mendidik bangsa.

Ia menolak politik agitasi dan kekerasan, karena yakin bahwa kemerdekaan yang diperoleh dengan membakar akal sehat tak akan membawa keadilan yang hakiki.

Ia pernah berkata, “Revolusi yang hanya mengganti pemegang senjata tak akan membawa perubahan. Yang harus kita ubah adalah cara berpikir.”

Baca Juga: Aldy Maldini ungkap sudah selesai refund uang penggemar dan bayar sebagian utangnya: Ini pembelajaran hidup yang luar biasa

Ini bukan sekadar refleksi, tapi arah politik yang ia jalani. Di tengah banyak pemimpin muda memilih jalan pedang, Syahrir membawa pena dan kata-kata.

Ketika menjadi Perdana Menteri di usia sangat muda, ia menghadapi tekanan luar biasa dari dalam dan luar negeri.

Namun dalam berbagai kesempatan, ia tetap mengusung pandangan bahwa kekuasaan adalah amanat, bukan hadiah.

Ia menulis, “Kebebasan bukanlah semata-mata bebas dari penjajah, melainkan bebas untuk berpikir, memilih, dan bermartabat.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X