GENMILENIAL.ID - Di tengah kebisingan politik hari ini, nama Sutan Syahrir kadang terdengar seperti bisikan dari masa lampau.
Namun justru dalam keteduhan itulah, kita bisa menemukan kembali makna dari politik yang sejati yakni politik sebagai ekspresi dari nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
Bagi Syahrir, politik bukanlah arena perebutan kekuasaan semata. Ia menulis dalam Perjuangan Kita: "Kita bukan penghasut, bukan pengobar massa yang mabuk, tapi pendidik rakyat, pembina jiwa baru yang merdeka.”
Baca Juga: Tom Lembong di sidang korupsi gula: KUHP tak bisa hukum orang kalau aturannya tak ada
Baginya, politik harus menjadi jalan pendidikan, bukan jalan pembodohan, jalan penguatan karakter, bukan sekadar mobilisasi kemarahan.
Dalam pusaran revolusi yang penuh gejolak, Syahrir memilih jalan yang sepi: jalan diplomasi, jalan berpikir jernih, jalan mendidik bangsa.
Ia menolak politik agitasi dan kekerasan, karena yakin bahwa kemerdekaan yang diperoleh dengan membakar akal sehat tak akan membawa keadilan yang hakiki.
Ia pernah berkata, “Revolusi yang hanya mengganti pemegang senjata tak akan membawa perubahan. Yang harus kita ubah adalah cara berpikir.”
Ini bukan sekadar refleksi, tapi arah politik yang ia jalani. Di tengah banyak pemimpin muda memilih jalan pedang, Syahrir membawa pena dan kata-kata.
Ketika menjadi Perdana Menteri di usia sangat muda, ia menghadapi tekanan luar biasa dari dalam dan luar negeri.
Namun dalam berbagai kesempatan, ia tetap mengusung pandangan bahwa kekuasaan adalah amanat, bukan hadiah.
Ia menulis, “Kebebasan bukanlah semata-mata bebas dari penjajah, melainkan bebas untuk berpikir, memilih, dan bermartabat.”
Artikel Terkait
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
Sutan Syahrir, pemikir revolusioner yang melawan penjajah
Figur politik penting dalam perjalanan Indonesia, Soekarno, Sutan Syahrir, dan H Agus Salim
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
ESAI: Soe Hok Gie dan warisan sunyi untuk generasi hari ini
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
Sutan Syahrir: Pemikir sunyi di balik proklamasi kemerdekaan