ESAI: Apresiasi statement Kepala Bakom Syahganda Nainggolan: 'Wartawan itu nyawanya negara ini'

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 3 Oktober 2026 | 18:27 WIB
  Agus Sulistriyono, CEO Promedia Group (Dok. Promedia)
Agus Sulistriyono, CEO Promedia Group (Dok. Promedia)

Saya tertarik sekaligus mengapresiasi salah satu pernyataan pertama Syahganda Nainggolan setelah dipercaya Presiden Prabowo Subianto memimpin Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom). 'Wartawan itu nyawanya negara ini.'

Kalimatnya pendek, tetapi maknanya sangat dalam. Terlebih pernyataan tersebut disampaikan oleh orang yang kini berada pada posisi strategis dalam komunikasi pemerintah.

Saya sepakat. Namun saya ingin mengajak kepala Bakom melihat realita kondisi ekonomi kawan-kawan wartawan di tanah air.

Baca Juga: Bridgestone jadi pemasok ban tunggal Formula E 2026-2027, siapkan POTENZA GEN4

Kalau wartawan memang nyawa negara ini, bagaimana keadaan mereka yang selama ini menjaga nyawa itu?

Jawabannya mungkin tidak terlalu menggembirakan. Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 200-300 ribu wartawan yang bekerja di puluhan ribu media.

Angka pastinya memang sulit diketahui. Namun satu hal yang mudah kita lihat, industri media sedang tidak baik-baik saja.

Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan ekonomi telah menyebabkan PHK di berbagai perusahaan media, termasuk media-media besar.

Baca Juga: Soal pendampingan hukum masinis KA Argo Bromo Anggrek, Menhub serahkan pada KAI

Sebagian wartawan kemudian berusaha bertahan dengan mendirikan media sendiri.

Teknologi memang membuat mendirikan media menjadi mudah. Tetapi mendirikan media mudah, membuatnya sehat secara ekonomi adalah persoalan berbeda.

Puluhan ribu media kecil kini tumbuh di berbagai kabupaten dan kota. Banyak wartawannya bekerja dengan sumber daya terbatas. Bahkan tidak sedikit yang penghasilannya masih di bawah standar upah minimum daerah.

Padahal pers selalu kita tempatkan sebagai pilar keempat demokrasi.

Baca Juga: Tegar Jasa Priatna apresiasi 200 becak listrik bantuan Presiden untuk pengayuh becak Subang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB
X