Dan mungkin yang paling penting: saya ingin menyusun puisi yang bisa dibaca sambil ngopi di gardu ronda, bukan cuma di seminar sastra.
Karena buat saya, literasi bukan hanya soal buku tebal, tapi juga tentang siapa yang kita ajak ngobrol di sore hari.
***
Kini, dua tahun kemudian, saya baca lagi Batavian Haiku #1 dan hanya bisa nyengir. Ada rasa geli, haru, dan semacam kebanggaan yang absurd.
Bahwa saya telah mencoba—meski hanya lewat tiga bait yang lucu-lucu getir itu—menyusun tubuh kota saya yang terfragmentasi.
Sebuah tubuh yang bolong, begah, dan mungkin tertidur sambil bermimpi jadi pahlawan kampung bernama Pak Pung.
Jadi jika suatu hari Anda membaca haiku ini dan tertawa kecil, itu sudah cukup. Sebab puisi tak harus menjelaskan segalanya.
Ia cukup hadir, duduk santai di pangkeng, minum di gelas kecil (buat yang sudah nikah ya), dan berkata lirih: "nibla—nyungsep."
Ikhsan Risfandi, penulis puisi dengan nama pena Irzi, lelaki kelahiran Jakarta 1985 ini sudah menerbitkan dua buku yaitu Ruang Bicara terbit pada 2019 dan Trivia Kampung Sawah yang terbit pada November 2024