esai

ESAI: Menggelitik tersendat: Catatan centil tentang tiga baris batavian haiku

Jumat, 18 April 2025 | 11:54 WIB
Ikhsan Risfandi dikenal dengan nama pena Irzi, Penulis Puisi

Dan mungkin yang paling penting: saya ingin menyusun puisi yang bisa dibaca sambil ngopi di gardu ronda, bukan cuma di seminar sastra.

Karena buat saya, literasi bukan hanya soal buku tebal, tapi juga tentang siapa yang kita ajak ngobrol di sore hari.

***

Kini, dua tahun kemudian, saya baca lagi Batavian Haiku #1 dan hanya bisa nyengir. Ada rasa geli, haru, dan semacam kebanggaan yang absurd.

Bahwa saya telah mencoba—meski hanya lewat tiga bait yang lucu-lucu getir itu—menyusun tubuh kota saya yang terfragmentasi.

Sebuah tubuh yang bolong, begah, dan mungkin tertidur sambil bermimpi jadi pahlawan kampung bernama Pak Pung.

Baca Juga: Tepat di hari ulang tahunnya, Abidzar kirim somasi pada dua netizen yang dianggap telah menghina Umi Pipik: Ini bakti saya kepada ibu

Jadi jika suatu hari Anda membaca haiku ini dan tertawa kecil, itu sudah cukup. Sebab puisi tak harus menjelaskan segalanya.

Ia cukup hadir, duduk santai di pangkeng, minum di gelas kecil (buat yang sudah nikah ya), dan berkata lirih: "nibla—nyungsep."

Ikhsan Risfandi, penulis puisi dengan nama pena Irzi, lelaki kelahiran Jakarta 1985 ini sudah menerbitkan dua buku yaitu Ruang Bicara terbit pada 2019 dan Trivia Kampung Sawah yang terbit pada November 2024

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB