Tapi kemudian, datanglah mimpi si Pak Pung—nama yang saya pinjam dari stereotip orang tua Betawi yang setengah bijak, setengah bangkrut.
Ia bermimpi, mungkin tentang kehidupan yang tak pernah benar-benar tuntas: utang, cucu, atau kenangan akan masa jaya sebagai pemain domino kampung atau sebenarnya mimpi minum di gelas kecil itu istilah betawi sebagai ungkapan bersetubuh ya jadi mimpi jorok ini ceritanya.
***
Proses penulisan haiku ini sebenarnya lebih dekat ke ritual. Saya menulis dengan tubuh: menahan lapar, menonton bocah main petasan, dan mencatat suara.
Bukan suara Tuhan, tapi suara air tumpah dari genting, suara ojek lewat, atau suara perut saya sendiri.
Yang menarik dari penulisan ini adalah bagaimana saya mesti bernegosiasi antara humor dan kepedihan.
Ketika menulis 'nibla—nyungsep', saya tertawa. Tapi ada rasa getir juga: bahwa dalam hidup urban, kita sering jatuh tanpa sempat diteriaki.
Dan kata-kata seperti 'kemelekeran' atau 'Pak Pung' saya pilih bukan hanya karena lucu, tapi karena ia membawa jejak sosial yang sangat spesifik dan karib.
Puisi ini bukan hanya kerja kata, tapi kerja rasa yang dicampur mikro-narasi hidup sehari-hari. Ia tidak menggurui.
Tidak menjelaskan. Tapi menyodorkan sepotong irisan peradaban Jakarta dari sudut yang tidak di-endorse oleh Pemprov: perut begah, gelas kecil, pangkeng dan si Pak Pung.
Lalu apa artinya semua ini? Mungkin tak ada. Atau justru semua. Haiku ini adalah percobaan menjadikan bahasa lokal bukan sekadar pelengkap, tapi pusat semesta puisi.
Ia menolak tunduk pada standar pusat dan menawarkan semacam 'ketidakpatuhan puitik'. Ia juga merupakan bentuk afirmasi bahwa humor, ironi, dan bahasa ibu punya tempat sejajar dengan metafora muluk atau aforisme filosofis.