ESAI: Manusia, modern yang kehilangan prinsip tartil

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 26 Agustus 2026 | 06:29 WIB
Kundrat Kanda Permana, Cendikiawan muda dan pemerhati sosial
Kundrat Kanda Permana, Cendikiawan muda dan pemerhati sosial

Kita kemudian hidup dalam sebuah paradoks: teknologi membuat segala sesuatu semakin cepat, tetapi manusia justru semakin membutuhkan 'healing'.

Mengapa?

Karena manusia modern sedang kelelahan menghadapi kehidupan yang dipaksa berjalan melampaui ritme kemanusiaannya sendiri.

Healing akhirnya menjadi istilah populer untuk menggambarkan kebutuhan manusia kembali kepada sesuatu yang lebih alami, lebih lambat, lebih tenang, lebih berproses.

Baca Juga: Penyidikan cukup bukti, polisi tetapkan 2 tersangka kasus pengeroyokan siswa SMA di Bener Meriah

Namun persoalannya tidak berhenti di sana.

Ketika berbagai persoalan sosial muncul akibat tata kelola yang serba cepat, respons yang diberikan pun sering kali sama, dibuatlah aturan baru secara instan.

Berganti rezim, berganti pula aturan. Berganti persoalan, berganti kebijakan. Rakyat akhirnya menjadi semacam kelinci percobaan dari kebijakan yang terus berganti, sementara akar persoalannya belum tentu pernah disentuh.

Padahal Al-Qur’an mengajarkan satu prinsip yang sangat penting, tartil.

Baca Juga: Viral aksi pengemudi outlander arogan di Surabaya: Tabrak warga hingga tewas, malah nunjuk sambil marah-marah

Tartil bukan sekadar membaca Al-Qur’an dengan lagu dan perlahan. Lebih dalam dari itu, tartil adalah cara membaca kehidupan: perlu keteraturan, tahapan , tidak tergesa-gesa, dan tidak tidak impulsif.

Al-Qur’an adalah bacaan, tetapi ia juga merupakan rekaman tentang fakta kehidupan yang diabadikan dalam suhuf agar manusia membacanya.

Karena itu, yang seharusnya dibaca bukan hanya teksnya, tetapi juga proses kehidupan yang berada di balik teks tersebut.

Alam mengajarkan tartil. Manusia lahir melalui tartil. Pertumbuhan membutuhkan tartil. Bahkan keberhasilan pun membutuhkan tartil.

Baca Juga: Masih ingat kasus dr Icha? 3 Anggota DPRD TTU kini ditetapkan jadi tersangka buntut skandal intimidasi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB
X