GENMILENIAL.ID – Dunia pendidikan Islam tengah dihadapkan pada dilema serius antara lembaga yang kaku dan murid yang kehilangan arah moral.
Fenomena ini menjadi perhatian Aghitsna Waliyaz Zulfa, mahasiswa tingkat ke-4 Universitas al-Ahgaff, Tarim, Yaman, yang menilai bahwa persoalan tersebut berakar dari menurunnya nilai adab dan lemahnya sistem pendidikan dalam merespons tantangan modernitas.
“Dalam sejarah pendidikan Islam, moralitas murid selalu menjadi hal yang utama. Dari sanalah lahir sosok seperti Imam al-Syafi’i dan al-Ghazali," ungkap Aghitsna dalam keteranganya pada GenMilenial.id Jumat, 31 Oktober 2025
"Namun kini, amoralitas justru tumbuh di lingkungan yang disebut ‘terdidik’. Ada kriminalisasi, tindakan anarkistis, dan bentuk degradasi moral terhadap guru,” sambungnya.
Baca Juga: Pendapatan Rp600 juta per bulan dari Aqua, Dirut Tirta Rangga: Semua tercatat resmi dan masuk PAD
Kata Aghitsna, modernisasi telah memberi tekanan besar pada sistem pendidikan Islam modern. Pola pembelajaran yang menutup ruang dialog dan menekan daya kritis murid membuat lembaga pendidikan kehilangan ruh Islam yang sejatinya menumbuhkan dialektika dan kebebasan berpikir.
“Beberapa lembaga masih mematikan dialektika murid. Potensi yang seharusnya tumbuh justru dipendam dalam-dalam. Ini bukan membangun, tapi mengubur potensi mereka,” ujarnya.
Ia pun menilai, efek dari sistem yang reaksioner itu tidak langsung terasa, tetapi perlahan mengikis kecerdasan dan kepekaan sosial calon cendekiawan muda. Murid yang kehilangan etika dan kemampuan analisis akan tersingkir dari masyarakat yang kompetitif.
Selain itu, arus media sosial yang sarat konten non-edukatif memperburuk keadaan.
“Remaja sedang mencari jati diri, tapi malah disuguhi konten yang tidak mendidik. Kalau lembaga juga tidak siap menghadapi perang digital, akhirnya dua-duanya sama-sama kolot dan antikritik,” ujarnya.
Integrasi pemikiran tiga tokoh besar Islam
Meski demikian, Aghitsna menilai bahwa problematika ini bukan tanpa solusi. Ia menyebut, warisan intelektual para filsuf Islam klasik seperti Al-Ghazali, Ikhwan al-Shafa, dan Ibn Khaldun masih sangat relevan untuk menjadi pedoman.
“Degradasi moral, sistem yang kaku, hingga disfungsi pendidikan bisa diobati dengan integrasi tiga aliran besar pemikiran Islam,” jelasnya.
Artikel Terkait
Meriahkan Maulid Nabi, anak-anak ramaikan lomba islami di Masjid Al Barokah
Tepuk sakinah, doa sunyi di tengah lonjakan perceraian: Antara edukasi, gimik, dan harapan keluarga Indonesia
Masjid dari swadaya warga, Wakil Bupati Subang apresiasi semangat religius dan kebersamaan Desa Marengmang
Keteladanan KH. Anwar Manshur: Ulama sepuh Lirboyo yang dihormati lintas generasi
Satu dekade Hari Santri: Bupati Subang dikukuhkan jadi Panglima Santri, serukan santri melek zaman dan inovatif
Momentum Hari Santri, Badan Wakaf As-Syifa gerakkan literasi Qur’an: 555 mushaf disalurkan untuk pelajar, lansia, dan majelis taklim
Wamen Haji Dahnil Anzar: Legalisasi umrah mandiri justru lindungi jemaah dan pelaku travel