Ketika sebuah karya dibahas, ditafsirkan, dan diperdebatkan, nilai estetik dan ekonominya perlahan menemukan konteks.
Publik yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang semula acuh menjadi peduli.
Dalam Sirisihin malam ini, salah satu karya yang dibahas adalah patung berjudul ‘The Gar’ karya Hadi Sisanto (42), sebuah patung kuda dari akar kayu jati, dikerjakan secara manual selama lima hari.
Kuda dalam karya ini tidak tampil sebagai simbol keperkasaan yang banal. Akar jati yang dipilih Sisanto menghadirkan tubuh kuda yang seolah lahir dari tanah yang menyimpan memori waktu dan luka alam.
Baca Juga: Dua bulan pascabanjir Aceh Timur, kegiatan mengaji anak-anak di Dayah Sarah Gala masih terhenti
The Gar terasa seperti makhluk peralihan, berada di antara domestikasi dan kebebasan, antara kekuatan dan kerentanan.
Di sini, kuda bukan sekadar figur, melainkan metafora tentang manusia yang terus bernegosiasi dengan asal-usul dan nasibnya.
Seperti kata Martin Heidegger, 'Seni adalah cara kebenaran menyingkapkan dirinya,' dan dalam patung ini, kebenaran itu hadir melalui ketegangan bentuk dan material.
Karya lain yang memantik diskusi adalah patung ikan kayu berjudul ‘Sumbut’ karya Wahyudi (52).
Menurut penuturan sang perupa, karya ini berbicara tentang kejujuran, yang direpresentasikan melalui pilihan warna mata hitam dan putih serta bentuk mulut yang seolah sedang bersuara.
Baca Juga: Viral pengemudi mobil ludahi pemotor di Bekasi, diduga paksa terobos lampu merah
Bagi saya, Sumbut menarik karena ia mengangkat kejujuran bukan sebagai slogan moral, tetapi sebagai pengalaman yang rapuh.
Mulut ikan yang terbuka terasa seperti pengakuan kejujuran yang penuh risiko, sementara mata hitam-putih menegaskan dikotomi yang sering kita hindari.
Artikel Terkait
Keindahan seni rupa, eksplorasi kreativitas melalui kanvas warna dan bentuk
Mengenang Titiek Puspa, tokoh seniman yang gaungkan seni musik Indonesia di tengah demam musik barat era 60an
Yayasan Seniman 'Langgar Art' surati Bupati Ipuk Fiestiandani, minta penjelasan penutupan paksa minimarket di Banyuwangi
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme
ESAI: Titikan di Galeri Indigo, catatan tentang seni rupa, anak, dan kemerdekaan berkarya