ESAI: 'Sirisihin' Madiun berdialog seni rupa, ekosistem, dan kejujuran berkarya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 1 Februari 2026 | 18:14 WIB
Fileski W. Tanjung (paling kiri) bersama para seniman dalam forum Sirisihin di Art Tangsen Wahyudi, Madiun, membahas karya, ekosistem seni, dan kejujuran berkarya
Fileski W. Tanjung (paling kiri) bersama para seniman dalam forum Sirisihin di Art Tangsen Wahyudi, Madiun, membahas karya, ekosistem seni, dan kejujuran berkarya

Ketika sebuah karya dibahas, ditafsirkan, dan diperdebatkan, nilai estetik dan ekonominya perlahan menemukan konteks.

Publik yang semula tidak tahu menjadi tahu, yang semula acuh menjadi peduli.

The Gar karya Hadi Sisanto (42), patung kuda dari akar kayu jati yang merekam negosiasi antara kekuatan dan kerentanan, makhluk peralihan yang lahir dari memori tanah, luka alam, dan pencarian manusia atas asal-usul serta nasibnya
The Gar karya Hadi Sisanto (42), patung kuda dari akar kayu jati yang merekam negosiasi antara kekuatan dan kerentanan, makhluk peralihan yang lahir dari memori tanah, luka alam, dan pencarian manusia atas asal-usul serta nasibnya

Dalam Sirisihin malam ini, salah satu karya yang dibahas adalah patung berjudul ‘The Gar’ karya Hadi Sisanto (42), sebuah patung kuda dari akar kayu jati, dikerjakan secara manual selama lima hari.

Kuda dalam karya ini tidak tampil sebagai simbol keperkasaan yang banal. Akar jati yang dipilih Sisanto menghadirkan tubuh kuda yang seolah lahir dari tanah yang menyimpan memori waktu dan luka alam.

Baca Juga: Dua bulan pascabanjir Aceh Timur, kegiatan mengaji anak-anak di Dayah Sarah Gala masih terhenti

The Gar terasa seperti makhluk peralihan, berada di antara domestikasi dan kebebasan, antara kekuatan dan kerentanan.

Di sini, kuda bukan sekadar figur, melainkan metafora tentang manusia yang terus bernegosiasi dengan asal-usul dan nasibnya.

Seperti kata Martin Heidegger, 'Seni adalah cara kebenaran menyingkapkan dirinya,' dan dalam patung ini, kebenaran itu hadir melalui ketegangan bentuk dan material.

Sumbut karya Wahyudi (52), patung ikan kayu yang memaknai kejujuran sebagai keberanian bersuara, rapuh, berisiko, namun perlu dihadirkan di tengah dunia yang kerap memilih abu-abu
Sumbut karya Wahyudi (52), patung ikan kayu yang memaknai kejujuran sebagai keberanian bersuara, rapuh, berisiko, namun perlu dihadirkan di tengah dunia yang kerap memilih abu-abu

Karya lain yang memantik diskusi adalah patung ikan kayu berjudul ‘Sumbut’ karya Wahyudi (52).

Menurut penuturan sang perupa, karya ini berbicara tentang kejujuran, yang direpresentasikan melalui pilihan warna mata hitam dan putih serta bentuk mulut yang seolah sedang bersuara.

Baca Juga: Viral pengemudi mobil ludahi pemotor di Bekasi, diduga paksa terobos lampu merah

Bagi saya, Sumbut menarik karena ia mengangkat kejujuran bukan sebagai slogan moral, tetapi sebagai pengalaman yang rapuh.

Mulut ikan yang terbuka terasa seperti pengakuan kejujuran yang penuh risiko, sementara mata hitam-putih menegaskan dikotomi yang sering kita hindari.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X