ESAI: 'Sirisihin' Madiun berdialog seni rupa, ekosistem, dan kejujuran berkarya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 1 Februari 2026 | 18:14 WIB
Fileski W. Tanjung (paling kiri) bersama para seniman dalam forum Sirisihin di Art Tangsen Wahyudi, Madiun, membahas karya, ekosistem seni, dan kejujuran berkarya
Fileski W. Tanjung (paling kiri) bersama para seniman dalam forum Sirisihin di Art Tangsen Wahyudi, Madiun, membahas karya, ekosistem seni, dan kejujuran berkarya

Dalam dunia yang dipenuhi abu-abu kepentingan, Wahyudi justru mengajak kita kembali pada keberanian mengatakan yang benar.

Seperti diingatkan oleh Søren Kierkegaard, 'Kejujuran adalah keberanian untuk berdiri sendiri di hadapan kebenaran,' dan patung ini memvisualkan keberanian itu dalam bahasa estetika kayu.

Baca Juga: Sempat picu kepanikan, sirine peringatan banjir di Bekasi kini diubah jadi imbauan waspada

Inti dari Sirisihin bukanlah kesepakatan instan atau solusi cepat, melainkan upaya merajut sinergi kesenian di Madiun Raya.

Harapannya adalah terciptanya ekosistem berkesenian yang mempertemukan seniman, kurator, penikmat seni, kolektor, galeri, serta seniman lintas disiplin dari sastra, musik, teater, dan tari.

Kolaborasi lintas bidang inilah yang kelak dapat meningkatkan apresiasi dan nilai karya seni rupa Madiun di mata masyarakat.

Ekosistem yang kuat tidak lahir dari satu aktor, tetapi dari keberanian banyak pihak untuk saling mendengar dan saling menguatkan.

Sirisihin mungkin hanya sebuah pertemuan kecil di pinggiran peta seni nasional. Namun, sejarah sering bergerak dari pinggir, dari ruang-ruang yang berani mempertanyakan kebiasaan.

Baca Juga: Kapolresta Sleman akui salah terapkan pasal, kasus Hogi bela istri dari penjambret diminta dihentikan

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Madiun punya potensi, melainkan apakah kita berani merawatnya melalui percakapan yang jujur dan berkelanjutan.

Apakah kita siap menjadikan diskusi karya seni sebagai kebutuhan, bukan pelengkap? Dan lebih jauh, apakah kita berani mempercayai bahwa dari pertemuan-pertemuan sederhana semacam inilah, sebuah peradaban dari kota kecil bisa menemukan martabatnya di kancah global.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menuntut jawaban cepat, tetapi menuntut kesediaan kita untuk terus berpikir, berdialog, dan bertumbuh bersama dalam berkesenian.

Fileski W. Tanjung adalah penulis, seniman, pendidik dari kota Madiun. Aktif menulis esai, puisi, cerpen di berbagai media nasional. Sehari-hari mengajar seni budaya di SMAN 2 Madiun

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X