Dalam dunia yang dipenuhi abu-abu kepentingan, Wahyudi justru mengajak kita kembali pada keberanian mengatakan yang benar.
Seperti diingatkan oleh Søren Kierkegaard, 'Kejujuran adalah keberanian untuk berdiri sendiri di hadapan kebenaran,' dan patung ini memvisualkan keberanian itu dalam bahasa estetika kayu.
Baca Juga: Sempat picu kepanikan, sirine peringatan banjir di Bekasi kini diubah jadi imbauan waspada
Inti dari Sirisihin bukanlah kesepakatan instan atau solusi cepat, melainkan upaya merajut sinergi kesenian di Madiun Raya.
Harapannya adalah terciptanya ekosistem berkesenian yang mempertemukan seniman, kurator, penikmat seni, kolektor, galeri, serta seniman lintas disiplin dari sastra, musik, teater, dan tari.
Kolaborasi lintas bidang inilah yang kelak dapat meningkatkan apresiasi dan nilai karya seni rupa Madiun di mata masyarakat.
Ekosistem yang kuat tidak lahir dari satu aktor, tetapi dari keberanian banyak pihak untuk saling mendengar dan saling menguatkan.
Sirisihin mungkin hanya sebuah pertemuan kecil di pinggiran peta seni nasional. Namun, sejarah sering bergerak dari pinggir, dari ruang-ruang yang berani mempertanyakan kebiasaan.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Madiun punya potensi, melainkan apakah kita berani merawatnya melalui percakapan yang jujur dan berkelanjutan.
Apakah kita siap menjadikan diskusi karya seni sebagai kebutuhan, bukan pelengkap? Dan lebih jauh, apakah kita berani mempercayai bahwa dari pertemuan-pertemuan sederhana semacam inilah, sebuah peradaban dari kota kecil bisa menemukan martabatnya di kancah global.
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak menuntut jawaban cepat, tetapi menuntut kesediaan kita untuk terus berpikir, berdialog, dan bertumbuh bersama dalam berkesenian.
Fileski W. Tanjung adalah penulis, seniman, pendidik dari kota Madiun. Aktif menulis esai, puisi, cerpen di berbagai media nasional. Sehari-hari mengajar seni budaya di SMAN 2 Madiun
Artikel Terkait
Keindahan seni rupa, eksplorasi kreativitas melalui kanvas warna dan bentuk
Mengenang Titiek Puspa, tokoh seniman yang gaungkan seni musik Indonesia di tengah demam musik barat era 60an
Yayasan Seniman 'Langgar Art' surati Bupati Ipuk Fiestiandani, minta penjelasan penutupan paksa minimarket di Banyuwangi
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme
ESAI: Titikan di Galeri Indigo, catatan tentang seni rupa, anak, dan kemerdekaan berkarya