ESAI: 'Sirisihin' Madiun berdialog seni rupa, ekosistem, dan kejujuran berkarya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 1 Februari 2026 | 18:14 WIB
Fileski W. Tanjung (paling kiri) bersama para seniman dalam forum Sirisihin di Art Tangsen Wahyudi, Madiun, membahas karya, ekosistem seni, dan kejujuran berkarya
Fileski W. Tanjung (paling kiri) bersama para seniman dalam forum Sirisihin di Art Tangsen Wahyudi, Madiun, membahas karya, ekosistem seni, dan kejujuran berkarya

Padahal, diskusi karya adalah salah satu indikator peradaban yang sehat. Hannah Arendt pernah menulis, 'Berpikir adalah dialog sunyi antara aku dengan diriku sendiri,' dan diskusi seni adalah perluasan dialog itu ke ruang publik, agar pikiran tidak mandek dalam kesendirian.

Kegiatan rutin membahas karya seni membawa banyak manfaat yang kerap diremehkan.

Ia melatih kepekaan intelektual seniman dan publik, memperluas kosakata estetik, membangun tradisi kritik yang sehat, serta mencegah seni terjebak pada repetisi tanpa refleksi.

Diskusi juga menjadi ruang transfer pengetahuan antargenerasi, tempat seniman muda belajar bukan hanya dari teknik, tetapi dari cara berpikir.

Baca Juga: Sebulan bisa tiga kali, emak-emak Bekasi omelin banjir yang bikin rumah becek dan berlumpur

Lebih jauh, forum semacam ini menciptakan arsip pemikiran kolektif yang kelak menjadi penanda sejarah kebudayaan suatu wilayah.

Pengalaman kota-kota di negara maju menunjukkan korelasi kuat antara suburnya diskusi seni dan tumbuhnya ekosistem seni.

Paris tidak hanya dikenal karena museum-museumnya, tetapi karena tradisi Salonnière, kafe intelektual, dan debat estetik yang hidup sejak abad ke-19.

Berlin tumbuh sebagai kota seni kontemporer karena ruang-ruang diskusi, residensi, dan kritik yang terbuka terhadap eksperimentasi.

Baca Juga: Buntut kasus Hogi, Kapolresta Sleman dinonaktifkan sementara oleh Polda DIY

New York membesarkan para perupa dunia bukan hanya lewat galeri, tetapi lewat wacana yang terus-menerus diproduksi oleh kritikus, kurator, dan akademisi.

Di kota-kota itu, karya seni jarang dibiarkan berbicara sendirian, ia selalu ditemani percakapan.

Hal serupa semestinya bisa dijalankan di Madiun. Karya-karya seniman hebat di wilayah ini, khususnya seni rupa, tidak akan dikenal luas jika tidak pernah diperbincangkan dalam forum intelektual kebudayaan.

Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa nilai simbolik suatu karya tidak pernah lahir di ruang hampa, melainkan dibentuk melalui relasi sosial dan wacana.

Baca Juga: Warga Gantiwarno Klaten naikkan sampah ke jalan, sawahnya dijadikan tempat pembuangan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X