ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
Ucu, S.S, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang
Ucu, S.S, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 6 Subang

Dari kasus ini, sama-sama kita ketahui siswa telah berkali-kali melakukan hal tersebut, kemudian berlari pada saat diketahui, tidak mengaku dan pada saat itu tindakan reflek-lah yang muncul dan dilakukan oleh kepala sekolah karena sisi emosionalitas dan rasa tanggungjawab sebagai pendidik. Lalu apakah ini wajar dilakukan?

Baca Juga: 42 Peserta ikuti pelatihan operator forklift, PT Visi Mahakarya Nusantara siap cetak SDM unggul Subang

Memang banyak beragam pendapat. Banyak yang mendukung pola tindak kepala sekolah juga ada pula yang tidak sependapat dengan pola tindak kepala sekolah, terutama ketika disandingkan pada pola pendidikan pada tahun 90-an yang banyak dianggap kewajaran guru melakukan tindakan tegas seperti menampar atau hal-hal lain karena guru dianggap bertindak dengan dilandasi oleh sikap mendidik, serta ketika siswa melaporkan kepada orang tuanya malah orang tuanya tersebut mendukung tindakan guru.

Namun pada akhirnya sekolah harus mewadahi anak untuk belajar. Guru harus berperilaku sebagai sosok dirindukan, dapat mengeksplorasi diri sebagai sosok pembelajar, dapat menghadirkan pembelajaran yang proses pembelajarannya disesuaikan dengan kebutuhan, minat, dan gaya belajar unik, setiap siswa serta harus menghadirkan pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan.

Sekolah harus menjamin kondisi tersebut. Lalu peran orang tua harus sejalan dengan peran sekolah. Semoga.

Ucu S.S, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 6 Subang

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X