ESAI: Jakarta, ojol, dan bayangan kehilangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 29 Agustus 2025 | 19:23 WIB
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi

Baca Juga: 7 Anggota Brimob diamankan terkait driver ojol yang tewas dilindas mobil rantis, Kadiv Propam Polri janji usut transparan

Dalam konteks ini, puisi, esai, dan cerpen bukanlah pelarian, tapi cara lain untuk menulis ulang sejarah kota, sejarah dari bawah, dari jok motor yang sering diabaikan.

Setiap kali saya naik ojol, saya tahu saya sedang menumpang pada tubuh yang bekerja keras, tubuh yang bisa rapuh kapan saja. Dan di dalam kerentanan itu, saya belajar tentang arti keberanian.

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam setiap perjalanan, dua orang asing yang berbagi jalan, berbagi waktu, berbagi sedikit kepercayaan. Dari situlah, saya percaya, sastra bisa tumbuh.

Kini, ketika saya menulis esai ini, saya merasa setiap denyut kota terhubung dengan denyut kehilangan yang masih saya bawa.

Baca Juga: Suara bergetar saat mendoakan, Pasha Ungu melayat ke rumah driver ojol korban rantis Brimob: Tetap harus ada yang bertanggung jawab

Kehilangan adik saya, kehilangan Affan, kehilangan yang mungkin akan terus terjadi pada orang-orang kecil di jalanan Jakarta.

Tapi daripada menyerah pada putus asa, saya memilih untuk menuliskannya, menaruh nama mereka di halaman yang tidak mudah dihapus. Sebab, seperti kota, sastra juga adalah arsip, arsip cinta, arsip duka, arsip perlawanan.

Dan esai ini, semoga, bisa menjadi lilin kecil untuk menerangi nama Affan, sekaligus pelukan untuk semua pengemudi ojol yang setiap hari menyusuri kota dengan tubuh mereka sebagai taruhan.

Terima kasih telah membawa saya ke rumah, ke stasiun, ke halte Trans-Jakarta, ke kafe, dan bahkan ke lorong-lorong puisi yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Ikhsan Risfandi, penulis puisi kelahiran Jakarta 1985, dikenal dengan nama IRZI dan telah menerbitkan dua buku yaitu Ruang Bicara terbit pada 2019 dan Trivia Kampung Sawah yang terbit pada November 2024

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X