ESAI: Jakarta, ojol, dan bayangan kehilangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 29 Agustus 2025 | 19:23 WIB
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi

Baca Juga: Transparansi dan tindakan tegas, polisi hadapi demonstran usai insiden Affan

Tanpa mereka, saya mungkin hanya bergerak di jalur yang itu-itu saja, kantor, rumah, mal, bioskop.

Bersama mereka, saya dipaksa masuk ke gang sempit yang tak pernah saya tahu ada, berbelok ke jalur tikus yang membelah permukiman, bahkan melewati jembatan reyot yang tak masuk Google Maps.

Saya jadi mengerti, kota tidak hanya dibaca lewat peta resmi, tapi juga lewat rute-rute alternatif yang diketahui para ojol.

Di titik itu, saya sadar, Jakarta yang sesungguhnya bukanlah Jakarta yang megah di brosur pariwisata, melainkan kota yang ditenun setiap hari oleh para pengemudi.

Baca Juga: Polres Subang tingkatkan kesiapsiagaan, Apel Siaga 1 antisipasi dinamika Kamtibmas

Mereka adalah narator jalanan. Setiap kali saya bertanya, “Lewat sini bisa, Bang?”, dan ia menjawab dengan yakin “Tenang aja, saya tahu jalannya,” saya merasa sedang membaca sebuah puisi urban yang penuh improvisasi.

Ada ritme, ada kepercayaan, ada seni bertahan hidup di antara jalan yang macetnya seperti kutukan.

Tapi di balik semua itu, ada realitas getir, pekerjaan ojol adalah pekerjaan yang rapuh. Ia mengandalkan tubuh, waktu, dan sedikit keberuntungan.

Sekali jatuh, sekali salah arah, atau sekali terkena musibah, seluruh hidup bisa berubah. Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan pada 28 Agustus 2025 mengingatkan saya pada rapuhnya garis batas itu.

Baca Juga: Prabowo sampaikan duka, pemerintah pastikan keluarga Affan ojol dapat perhatian khusus

Affan, seorang pengemudi muda, hilang nyawanya bukan karena kelalaiannya, tapi karena terjebak di pusaran ricuh yang ia sendiri mungkin tak pernah berniat ikuti. Tubuhnya dilindas mobil aparat, dan seketika, dunia keluarganya runtuh.

Kabar itu menghantam saya seperti pukulan yang datang dari belakang. Saya tak mengenalnya, tapi berita tentang kematiannya terasa seperti kehilangan adik sendiri.

Barangkali karena saya memang pernah kehilangan adik, secara literal dan tak tertebak, ketika ia diserempet kereta api. Luka itu tak pernah hilang, hanya berubah bentuk.

Setiap kali ada kabar anak muda tewas di jalan, luka itu berdarah lagi. Dan di wajah Affan, saya melihat wajah adik saya, muda, penuh rencana yang terputus begitu saja, meninggalkan keluarga dalam sunyi yang panjang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X