Baca Juga: Transparansi dan tindakan tegas, polisi hadapi demonstran usai insiden Affan
Tanpa mereka, saya mungkin hanya bergerak di jalur yang itu-itu saja, kantor, rumah, mal, bioskop.
Bersama mereka, saya dipaksa masuk ke gang sempit yang tak pernah saya tahu ada, berbelok ke jalur tikus yang membelah permukiman, bahkan melewati jembatan reyot yang tak masuk Google Maps.
Saya jadi mengerti, kota tidak hanya dibaca lewat peta resmi, tapi juga lewat rute-rute alternatif yang diketahui para ojol.
Di titik itu, saya sadar, Jakarta yang sesungguhnya bukanlah Jakarta yang megah di brosur pariwisata, melainkan kota yang ditenun setiap hari oleh para pengemudi.
Baca Juga: Polres Subang tingkatkan kesiapsiagaan, Apel Siaga 1 antisipasi dinamika Kamtibmas
Mereka adalah narator jalanan. Setiap kali saya bertanya, “Lewat sini bisa, Bang?”, dan ia menjawab dengan yakin “Tenang aja, saya tahu jalannya,” saya merasa sedang membaca sebuah puisi urban yang penuh improvisasi.
Ada ritme, ada kepercayaan, ada seni bertahan hidup di antara jalan yang macetnya seperti kutukan.
Tapi di balik semua itu, ada realitas getir, pekerjaan ojol adalah pekerjaan yang rapuh. Ia mengandalkan tubuh, waktu, dan sedikit keberuntungan.
Sekali jatuh, sekali salah arah, atau sekali terkena musibah, seluruh hidup bisa berubah. Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan pada 28 Agustus 2025 mengingatkan saya pada rapuhnya garis batas itu.
Baca Juga: Prabowo sampaikan duka, pemerintah pastikan keluarga Affan ojol dapat perhatian khusus
Affan, seorang pengemudi muda, hilang nyawanya bukan karena kelalaiannya, tapi karena terjebak di pusaran ricuh yang ia sendiri mungkin tak pernah berniat ikuti. Tubuhnya dilindas mobil aparat, dan seketika, dunia keluarganya runtuh.
Kabar itu menghantam saya seperti pukulan yang datang dari belakang. Saya tak mengenalnya, tapi berita tentang kematiannya terasa seperti kehilangan adik sendiri.
Barangkali karena saya memang pernah kehilangan adik, secara literal dan tak tertebak, ketika ia diserempet kereta api. Luka itu tak pernah hilang, hanya berubah bentuk.
Setiap kali ada kabar anak muda tewas di jalan, luka itu berdarah lagi. Dan di wajah Affan, saya melihat wajah adik saya, muda, penuh rencana yang terputus begitu saja, meninggalkan keluarga dalam sunyi yang panjang.
Artikel Terkait
ESAI: Sastrawan, budayawan, dan pertautan yang tak pernah usai
Suara bergetar saat mendoakan, Pasha Ungu melayat ke rumah driver ojol korban rantis Brimob: Tetap harus ada yang bertanggung jawab
7 Anggota Brimob diamankan terkait driver ojol yang tewas dilindas mobil rantis, Kadiv Propam Polri janji usut transparan
Prabowo perintahkan investigasi transparan insiden ojol Affan Kurniawan
Soal driver ojol tewas dilindas rantis Brimob, Mahfud MD sebut kesalahan bukan di pendemo dan anggota
Anies Baswedan melayat ke rumah duka Affan Kurniawan hingga antar pemakaman, ibu korban menangis histeris
Transparansi dan tindakan tegas, polisi hadapi demonstran usai insiden Affan