ESAI: Jakarta, ojol, dan bayangan kehilangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 29 Agustus 2025 | 19:23 WIB
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi

Baca Juga: Anies Baswedan melayat ke rumah duka Affan Kurniawan hingga antar pemakaman, ibu korban menangis histeris

Dalam The City of Collective Memory, Christine Boyer menulis bahwa kota adalah arsip emosional. Ia menyimpan jejak tragedi sekaligus kenangan pribadi.

Maka setiap kali saya melewati jalan besar di Pejompongan, tempat Affan tewas, saya tahu jalan itu tidak lagi netral. Ia menjadi palimpsest, lapisan sejarah yang menampung darah seorang anak muda.

Sama seperti setiap kali saya melewati rel kereta di kampung halaman, saya tak bisa tidak mengingat adik saya. Kota, rupanya, punya cara sendiri untuk memahat kehilangan di aspal dan besinya.

Sebagai penulis, saya sering merasa tidak berdaya di hadapan peristiwa macam ini. Apa gunanya kata-kata di tengah nyawa yang hilang? Tapi justru di situ, saya merasa menulis bisa menjadi cara kecil untuk menjaga nama, agar Affan tidak hanya jadi statistik di laporan kepolisian.

Baca Juga: Soal driver ojol tewas dilindas rantis Brimob, Mahfud MD sebut kesalahan bukan di pendemo dan anggota

Kata-kata bisa menjadi bunga yang tidak layu, bisa menjadi penanda bahwa hidupnya, meski singkat, tetap berarti. Dan di jok belakang motor ojol yang lain, saya berjanji dalam hati, setiap kali menulis puisi tentang jalanan, saya akan menyelipkan jejak itu.

Saya jadi teringat apa yang ditulis Walter Benjamin tentang flaneur, pengembara kota yang berjalan tanpa tujuan jelas, menyerap detail kehidupan urban.

Bagi saya, ojol adalah flaneur modern, meskipun dengan kecepatan motor dan aplikasi peta digital.

Mereka bergerak bukan untuk melamun, tapi untuk bekerja. Namun, sama seperti flaneur, mereka menyaksikan denyut kota paling dekat.

Baca Juga: Prabowo perintahkan investigasi transparan insiden ojol Affan Kurniawan

Saya yang menumpang di belakang motor mereka juga jadi flaneur sementara, mencatat, menyerap, dan menulis. Jakarta bergerak, saya bergerak, kata-kata ikut bergerak.

Namun ada satu hal yang sering saya pikirkan, bagaimana kita bisa menghormati mereka lebih dari sekadar bintang lima di aplikasi?

Kehormatan itu mestinya diwujudkan dalam sistem yang melindungi keselamatan mereka, dalam ruang kota yang tidak memaksa mereka jadi tumbal.

Kehormatan itu juga bisa diwujudkan lewat ingatan kolektif, memastikan bahwa nama-nama seperti Affan tidak tenggelam di arsip berita.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X