ESAI: Jakarta, ojol, dan bayangan kehilangan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 29 Agustus 2025 | 19:23 WIB
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi
Ikhsan Risfandi (IRZI), Penulis Puisi

Saya tidak pernah bisa menghitung dengan pasti sudah berapa kali saya naik ojol sejak pertama kali aplikasi hijau dan oranye itu menghiasi layar ponsel orang-orang di Jakarta.

Kalau harus jujur, mungkin sudah ribuan kali. Kadang jaraknya hanya 10,5 kilometer, perjalanan dari rumah kontrakan ke stasiun kereta.

Kadang jauh, menyusuri beberapa provinsi sekaligus (Tangerang Banten -Jakarta - Depok /Bekasi Jawa Barat).

Di antara perjalanan-perjalanan itu, saya menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar moda transportasi murah dan cepat.

Baca Juga: Aksi demo guncang pasar: IHSG rontok hampir 2 persen, investor waspada level 7.750

Saya menemukan potongan hidup, percakapan rawan canggung yang bisa berubah jadi intim dalam 10 menit, juga wajah-wajah manusia Jakarta yang membawa seluruh beban kotanya di balik helm dan jaket lusuh.

Di kursi belakang motor itulah saya sering merasa Jakarta menyingkapkan dirinya tanpa basa-basi.

Angin sore yang membawa aroma gorengan dari pinggir jalan, klakson beruntun di lampu merah, tawa kecil pengemudi yang bercerita tentang anaknya kelas dua SD yang baru bisa mengaji.

Ada pula yang hanya diam, memilih biar suara mesin saja yang mengisi udara.

Baca Juga: Prabowo kecewa tindakan aparat, pastikan keluarga ojol Affan dapat perlindungan dan penegakan hukum tegas

Setiap perjalanan adalah fragmen, kadang banal, kadang mengejutkan, dan bagi saya, fragmen-fragmen itu membentuk bahan mentah bagi puisi, esai, dan cerpen.

Saya mulai mengoleksi kalimat-kalimat yang lahir dari jok belakang motor: sebuah “antologi tak tertulis” yang mengiringi saya sepanjang jalan.

Sosiolog kota Henri Lefebvre pernah menulis tentang 'the right to the city' hak untuk memiliki, mengubah, dan menafsirkan ruang kota.

Bagi saya, ojol adalah manifestasi paling sehari-hari dari hak itu. Mereka bukan sekadar penyedia jasa, melainkan mediator antara saya dan Jakarta.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X