ESAI: Satu Suro, ketika semesta berbisik dan energi mengamini

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 28 Juni 2025 | 15:50 WIB
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Beberapa teori di fisika kuantum dan neuroscience berspekulasi tentang potensi medan elektromagnetik bumi (seperti Resonansi Schumann) yang dapat berinteraksi dengan gelombang otak manusia.

Meditasi kolektif atau aktivitas spiritual yang dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan, seperti yang terjadi pada malam Satu Suro, secara hipotetis dapat menciptakan resonansi yang lebih kuat, memfasilitasi pengalaman spiritual atau kesadaran kolektif yang mendalam.

Baca Juga: Dimas Anggara minta maaf usai skandal tampar Kiesha Alvaro, Pasha Ungu beri respons menyejukkan

Ini masih merupakan area penelitian yang sangat spekulatif, namun menarik.

Beberapa studi awal tentang korelasi gelombang otak dan Resonansi Schumann, meskipun belum konklusif, dapat ditemukan di jurnal-jurnal seperti Journal of Consciousness Studies atau Frontiers in Human Neuroscience.

Psikologi Transpersonal dan Pengalaman Puncak terjadi pada Malam Satu Suro. Fenomena Makrifat atau pengalaman mistis yang intens selama Satu Suro dapat dianalisis dari sudut pandang psikologi transpersonal.

Ini adalah cabang psikologi yang mempelajari dimensi spiritual, puncak kesadaran, dan potensi transenden manusia.

Baca Juga: Prabowo tunjuk Menko Pangan Zulkifli Hasan jadi Ketua Satgas Koperasi Merah Putih

Pengalaman ini seringkali melibatkan perasaan kesatuan, kehilangan ego, dan pemahaman intuitif yang melampaui logika biasa.

Setidaknya, itulah yang ditulis oleh Maslow, A. H. (1964). pada 'Religions, Values, and Peak-Experiences' yang diterbitkan oleh Ohio State University Press.

Satu Suro adalah sebuah mozaik kompleks yang memadukan simbolisme budaya, kedalaman spiritual, dan potensi untuk interpretasi ilmiah.

Bagi masyarakat Jawa, ini adalah gerbang ke dunia batin yang lebih kaya, sebuah perayaan spiritual yang merayakan keselarasan manusia dengan alam semesta.

Baca Juga: Istana klarifikasi ramainya serbuan netizen ke akun Prabowo soal pendaki Brasil: Presiden tetap perhatikan kasus-kasus kemanusiaan

Sementara semiotika membantu kita membaca tanda-tanda yang tersembunyi, makrifat mengajak kita untuk menyelami hakikat di baliknya.

Dan, meskipun ilmu pengetahuan masih dalam tahap awal untuk memahami fenomena semacam ini, pintu untuk menjembatani dimensi spiritual dengan data saintis selalu terbuka, menawarkan kemungkinan penemuan-penemuan baru di persimpangan tradisi dan teknologi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X