ESAI: Pesan Tan Malaka buat pergerakan kaum muda, refleksi atas pikiran, perjuangan, dan semangat yang tak pernah mati

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Jumat, 6 Juni 2025 | 19:12 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Di balik pekatnya sejarah dan kusutnya jalur revolusi, nama Tan Malaka menyala seperti obor yang tak kunjung padam.

Ia bukan sekadar pejuang kemerdekaan yang terlupakan, melainkan pemikir yang menulis masa depan dengan darah, pena, dan peluh.

Hari ini, ketika generasi muda kerap terombang-ambing dalam kekacauan moral dan semu informasi, pesan Tan Malaka kembali mengetuk: bebaskan pikiranmu, kobarkan nuranimu, dan teguhkan jalanmu.

Dunia hari ini berbeda, tapi luka sosial masih sama. Ketimpangan, kebodohan, dan ilusi kemerdekaan masih menghantui kita.

Baca Juga: Sejarah mabit di Muzdalifah, salah satu rangkaian wajib haji usai wukuf di Arafah

Tan Malaka, lewat karyanya Madilog, menawarkan jalan sunyi: jalan berpikir.

Ia mengajak anak muda agar tidak tumbuh hanya dengan hafalan dan kekaguman kosong. Tapi agar berani bertanya, meragukan, dan menggugat.

“Hanya dengan pikiran merdeka, manusia bisa menentukan nasibnya sendiri,” seolah-olah begitu ia berbisik dari balik lembar sejarah yang lama dilipat.

Ia tak pernah percaya pada kekuasaan yang dipelihara oleh kompromi. Bagi Tan Malaka, perlawanan sejati bukan hanya di medan senjata, tapi di medan kesadaran.

Baca Juga: 10 Ucapan selamat Hari Raya Idul Adha 2025, penuh doa dan makna untuk dibagikan

Ia melihat pemuda bukan sekadar angka demografi, tetapi jiwa pemberontakan yang sadar arah.

Tapi menjadi muda di zaman ini, sungguh tak mudah. Kita dijejali ilusi citra, hidup dalam dunia yang lebih sibuk memoles daripada membangun.

Maka Tan Malaka pun seakan mengingatkan: jangan buang semangatmu hanya untuk tampil, tapi pakailah untuk menggugah.

Jangan biarkan semangatmu hanya menjadi viral, tapi jadikan ia vital bagi mereka yang tertindas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X