Di balik pekatnya sejarah dan kusutnya jalur revolusi, nama Tan Malaka menyala seperti obor yang tak kunjung padam.
Ia bukan sekadar pejuang kemerdekaan yang terlupakan, melainkan pemikir yang menulis masa depan dengan darah, pena, dan peluh.
Hari ini, ketika generasi muda kerap terombang-ambing dalam kekacauan moral dan semu informasi, pesan Tan Malaka kembali mengetuk: bebaskan pikiranmu, kobarkan nuranimu, dan teguhkan jalanmu.
Dunia hari ini berbeda, tapi luka sosial masih sama. Ketimpangan, kebodohan, dan ilusi kemerdekaan masih menghantui kita.
Baca Juga: Sejarah mabit di Muzdalifah, salah satu rangkaian wajib haji usai wukuf di Arafah
Tan Malaka, lewat karyanya Madilog, menawarkan jalan sunyi: jalan berpikir.
Ia mengajak anak muda agar tidak tumbuh hanya dengan hafalan dan kekaguman kosong. Tapi agar berani bertanya, meragukan, dan menggugat.
“Hanya dengan pikiran merdeka, manusia bisa menentukan nasibnya sendiri,” seolah-olah begitu ia berbisik dari balik lembar sejarah yang lama dilipat.
Ia tak pernah percaya pada kekuasaan yang dipelihara oleh kompromi. Bagi Tan Malaka, perlawanan sejati bukan hanya di medan senjata, tapi di medan kesadaran.
Baca Juga: 10 Ucapan selamat Hari Raya Idul Adha 2025, penuh doa dan makna untuk dibagikan
Ia melihat pemuda bukan sekadar angka demografi, tetapi jiwa pemberontakan yang sadar arah.
Tapi menjadi muda di zaman ini, sungguh tak mudah. Kita dijejali ilusi citra, hidup dalam dunia yang lebih sibuk memoles daripada membangun.
Maka Tan Malaka pun seakan mengingatkan: jangan buang semangatmu hanya untuk tampil, tapi pakailah untuk menggugah.
Jangan biarkan semangatmu hanya menjadi viral, tapi jadikan ia vital bagi mereka yang tertindas.
Artikel Terkait
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
Dian Siti Maryam, Kader PKB Subang milenial ajak kaum muda jangan buta politik
Pilkada 2024, suara pemilih pemula diprediksi bakal dongkrak jumlah DPT, Ketua KPU Subang sebut pentingnya literasi politik bagi kaum muda
ESAI: Kabupaten Subang dan kepemimpinan kaum muda, antara harapan dan tantangan
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
ESAI: Merawat keberagaman budaya
Soe Hok Gie dan kebenciannya terhadap kemunafikan