Kedua, negara perlu melindungi budaya lokal, bukan hanya sebagai aset ekonomi, tetapi sebagai jati diri bangsa yang harus diwariskan. World Day for Cultural Diversity ditetapkan oleh UNESCO sebagai bentuk perlindungan budaya sekaligus sebagai tanggapan atas serangan Taliban yang menghancurkan patung Buddha Bamyan di Afghanistan pada 2001.
Ketiga, dialog antarbudaya harus diperluas melalui seni, budaya, diskusi publik, dan media digital. Teknologi bisa menjadi alat yang menghubungkan beragam komunitas budaya jika digunakan dengan niat membangun.
Keempat, kebijakan publik harus menjamin ruang hidup yang adil bagi budaya minoritas, kelompok adat, dan komunitas rentan.
Kelima, media massa dan media sosial perlu memainkan peran strategis dalam membentuk narasi positif tentang keberagaman. Media tidak boleh terjebak dalam narasi sensasional atau polarisasi, tetapi harus menjadi jembatan pemahaman dan dialog lintas budaya.
Merawat diversitas budaya bukan hanya tugas negara, melainkan tanggung jawab moral seluruh umat manusia. Dunia yang lebih damai hanya bisa dibangun jika manusia saling memahami bahwa setiap budaya mengandung nilai-nilai luhur yang bisa saling melengkapi.
Menurut data UNESCO, sektor budaya dan kreatif merupakan salah satu penggerak pembangunan paling kuat di seluruh dunia.
Baca Juga: Dukung investasi, Bupati Subang diingatkan untuk rangkul inisiatif lokal
Sektor ini menyediakan lebih dari 48 juta lapangan pekerjaan di seluruh dunia (hampir setengahnya diisi oleh perempuan) yang mewakili 6,2 persen dari semua lapangan pekerjaan yang ada dan 3,1 persen dari PDB global.
Terkait proteksi budaya, kita butuh sekali banyak pemimpin yang dapat menjadikan budaya sebagai ‘jembatan kolaborasi’, bukan sebagai ‘alat dominasi.’ Sebagai ‘jembatan kolaborasi’, budaya dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjadi kerja sama dalam berbagai bidang; berbeda dengan budaya sebagai ‘alat dominasi’ dimana kebudayaan menjadi legitimasi untuk menaklukkan bangsa lainnya sebagaimana yang telah melanda berbagai negara di dunia, termasuk kita di masa lalu.
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia
Artikel Terkait
Eksplorasi keindahan dan makna budaya pada Hari Kebaya Nasional
Ikon legendaris Yogyakarta, Hamzah Sulaiman meninggal dunia, pemilik House of Raminten yang lestarikan budaya dari masa ke masa
Mengenang Raminten: Sejarah dan warisan budaya kuliner sarat budaya dari almarhum Hamzah Sulaiman
D’NEXT, inkubator pemimpin masa depan Dahana: Transformasi budaya lewat generasi muda
Galuh Pakuan buka pintu diplomasi budaya, Tiongkok siap investasi energi terbarukan di Subang
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
IFG gelar Progress X, dorong budaya kerja inklusif dan kesetaraan karier perempuan