ESAI: Merawat keberagaman budaya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 17 Mei 2025 | 16:31 WIB
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Kedua, negara perlu melindungi budaya lokal, bukan hanya sebagai aset ekonomi, tetapi sebagai jati diri bangsa yang harus diwariskan. World Day for Cultural Diversity ditetapkan oleh UNESCO sebagai bentuk perlindungan budaya sekaligus sebagai tanggapan atas serangan Taliban yang menghancurkan patung Buddha Bamyan di Afghanistan pada 2001.

Ketiga, dialog antarbudaya harus diperluas melalui seni, budaya, diskusi publik, dan media digital. Teknologi bisa menjadi alat yang menghubungkan beragam komunitas budaya jika digunakan dengan niat membangun.

Baca Juga: Demi rumah tak dibongkar, Atalarik Syach nyaris serahkan BPKB mobil hingga bayar Rp200 juta! ada apa?

Keempat, kebijakan publik harus menjamin ruang hidup yang adil bagi budaya minoritas, kelompok adat, dan komunitas rentan.

Kelima, media massa dan media sosial perlu memainkan peran strategis dalam membentuk narasi positif tentang keberagaman. Media tidak boleh terjebak dalam narasi sensasional atau polarisasi, tetapi harus menjadi jembatan pemahaman dan dialog lintas budaya.

Merawat diversitas budaya bukan hanya tugas negara, melainkan tanggung jawab moral seluruh umat manusia. Dunia yang lebih damai hanya bisa dibangun jika manusia saling memahami bahwa setiap budaya mengandung nilai-nilai luhur yang bisa saling melengkapi.

Menurut data UNESCO, sektor budaya dan kreatif merupakan salah satu penggerak pembangunan paling kuat di seluruh dunia.

Baca Juga: Dukung investasi, Bupati Subang diingatkan untuk rangkul inisiatif lokal

Sektor ini menyediakan lebih dari 48 juta lapangan pekerjaan di seluruh dunia (hampir setengahnya diisi oleh perempuan) yang mewakili 6,2 persen dari semua lapangan pekerjaan yang ada dan 3,1 persen dari PDB global.

Terkait proteksi budaya, kita butuh sekali banyak pemimpin yang dapat menjadikan budaya sebagai ‘jembatan kolaborasi’, bukan sebagai ‘alat dominasi.’ Sebagai ‘jembatan kolaborasi’, budaya dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjadi kerja sama dalam berbagai bidang; berbeda dengan budaya sebagai ‘alat dominasi’ dimana kebudayaan menjadi legitimasi untuk menaklukkan bangsa lainnya sebagaimana yang telah melanda berbagai negara di dunia, termasuk kita di masa lalu.

Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X