ESAI : Membenahi paradigma dan tata kelola study tour

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 13 Mei 2024 | 18:22 WIB
Idris Apandi, Praktisi Pendidikan
Idris Apandi, Praktisi Pendidikan

Baca Juga: Fakta seputar jalur tengkorak, sering makan banyak korban kecelakaan, Pj. Bupati Subang sebut akan lakukan evaluasi bersama Pemprov dan Polda Jabar

Tour tidak harus dimaknai bepergian ke tempat yang jauh, tetapi bepergian, berkeliling ke lokasi yang dituju untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi, atau metode lainnya. 

Di era digital ini, bahkan ‘touring’ bisa dilakukan melalui perangkat virtual. Walau demikian, boleh pula sekolah berkunjung ke lokasi yang jauh dengan catatan ada kesepakatan orang tua dengan sekolah, ada jaminan keamanan, dan semua persyaratan administrasi kegiatan terpenuhi.

Kaitannya dengan study tour, yang terjadi adalah miskonsepsi dan salah kaprah. Study tour hanya identik dengan bepergian ke sebuah tempat dengan menggunakan kendaraan. 

Hal tersebut tentunya tidak lepas dari dana yang kadang memberatkan orang tua peserta didik dengan kondisi ekonomi yang beragam. 

Baca Juga: Kapolres Subang serahkan 10 jenazah kecelakaan tragedi Ciater pada keluarga korban di RSUD Subang, ini daftar nama-namanya!

Kadang, tidak bisa dipungkiri, orang tua tidak memiliki daya tawar untuk menolak saat sekolah ada program study tour. 

Rapat yang melibatkan komite sekolah kadang hanya bersifat formalitas karena segala sesuatunya sudah ditetapkan oleh sekolah. 

Komite sekolah yang seharusnya menjadi perwakilan orang tua peserta didik, tetapi justru cenderung lebih berperan sebagai juru bicara sekolah. 

Sebelum rapat, pihak sekolah kadang ‘mengondisikan’ ketua komite agar menyetujui dan mendukung kegiatan tersebut, dan menyampaikannya kepada orang tua peserta didik.

Baca Juga: Takziah ke rumah duka, Pj. Bupati Subang berikan santunan dan berharap pihak keluarga diberi kesabaran dalam hadapi ujian

Walau pihak sekolah menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak bersifat paksaan, tetapi sebagian orang tua peserta didik kadang berada posisi yang dilematis dan serba salah. 

Mau protes takut nanti berdampak buruk terhadap anaknya. Takut anaknya ‘ditandai’, dikucilkan, dan menanggung rasa malu. 

Jadi, pada akhirnya orang peserta didik menyetujui dan mengizinkan anaknya mengikuti study tour.

Kegiatan study tour tentunya tidak hanya diikuti oleh peserta didik saja, tetapi juga ada guru yang bertugas mendampingi peserta didik. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X