ESAI : Membenahi paradigma dan tata kelola study tour

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 13 Mei 2024 | 18:22 WIB
Idris Apandi, Praktisi Pendidikan
Idris Apandi, Praktisi Pendidikan

Baca Juga: Kecelakaan bus, polisi periksa 10 saksi dan lakukan olah TKP, dugaan sementara rem blong karena tidak ditemukan jejak rem

Walau demikian, hal ini memunculkan tuduhan bahwa kegiatan tersebut sebagai ajang cari untung pihak sekolah. 

Peserta didik yang membayar, tapi guru ikut juga. Tuduhan tersebut belum tentu benar. Karena mungkin saja sekolah pun sudah menyediakan anggaran untuk guru pendamping.

Tujuan utama dari study tour adalah memberikan kesempatan belajar dan pengalaman lapangan kepada peserta didik. 

Setelah berkunjung ke lokasi tertentu, disertai dengan kunjungan wisata. Istilahnya, sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui. Ilmunya dapat, hiburannya juga dapat.

Baca Juga: Diduga rem blong, rombongan bus pariwisata SMK Lingga Kencana asal Depok kecelakaan di jalan raya Ciater Subang, korban berserakan dipinggir jalan

Jika mau dikaitkan dengan pendidikan, kunjungan ke tempat wisata pun sebenarnya tidak hanya untuk hiburan atau bersenang-senang, tetapi juga dapat disisipkan sisi pendidikannya. 

Hal inilah yang perlu dibenahi. Jangan sampai tujuan study tour bergeser dari tujuan pembelajaran menjadi hanya sekadar tujuan piknik yang di satu sisi memerlukan biaya yang besar tetapi di sisi lain kurang memberikan manfaat.

Inilah yang disebut sebagai eduwisata atau wisata pendidikan yang bisa dikontekskan dengan berbagai mata pelajaran. 

Prinsipnya, pembelajaran berbasis proyek. Guru-guru bisa membuat semacam Lembar Kerja (LK) dan peserta didik membuat laporan observasi atau laporan singkat kegiatan study tour. 

Baca Juga: Dilepas Pj. Bupati, 432 jamaah dan 8 petugas kloter 1 jamaah haji asal Subang diberangkatkan

Dengan demikian, tujuan study tour sebagai sebuah metode pembelajaran dapat tercapai.

Study tour sebagai sebuah metode pembelajaran tetap menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan dengan catatan paradigma dan tata kelolanya diperbaiki. 

Kalau pun pelaksanaannya menggunakan kendaraan, harus dipastikan kendaraan yang digunakan layak, ada jaminan keamanan dan keselamatan dari pihak jasa travel yang bermitra dengan jasa sewa bus pariwisata, serta persyaratan lain sesuai dengan ketentuan pemerintah. 

Kecelakaan memang tidak ada yang tahu kapan dan di mana terjadinya. Tetapi hal tersebut setidaknya menjadi sebuah upaya preventif mencegah terjadinya kecelakaan pada saat study tour. Wallaahu a’lam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X